<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6956038590997371782</id><updated>2012-02-16T18:38:38.115-08:00</updated><title type='text'>Official Jurnalis Group Indonesia | Media Belajar Bersama</title><subtitle type='html'>Official Jurnalis Group Indonesia | Media Belajar Bersama</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Team Kita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-ZXNR8Yy9Aks/TzIETtpQRwI/AAAAAAAAAQc/vLYjCSWB2eg/s220/Sunset.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6956038590997371782.post-4240125611937152266</id><published>2009-03-24T14:48:00.000-07:00</published><updated>2009-03-24T14:49:20.124-07:00</updated><title type='text'>Kesalahan Bahasa Jurnalistik </title><content type='html'>&lt;font size="2" face="Arial"&gt;Bagi para penulis dan jurnalis (wartawan), bahasa adalah senjata,              dan kata-kata adalah pelurunya. Mereka tidak mungkin bisa              memengaruhi pikiran, suasana hati, dan gejolak pe-rasaan pembaca,              pendengar, atau pemirsanya, jika tidak menguasai bahasa jurnalistik              dengan baik dan benar.&lt;br /&gt;            Itulah sebabnya, para penulis dan jurnalis harus dibekali penguasaan              yang memadai atas kosa kata, pilihan kata, kalimat, paragraf, gaya              bahasa, dan etika bahasa jurnalistik.&lt;br /&gt;            Bahasa jurnalistik harus memenuhi sejumlah persyaratan, seperti              tampil menarik, variatif, segar, berkarakter. Selain itu, ia juga              harus senantiasa tampil ringkas dan lugas, logis, dinamis,              demokratis, dan populis.&lt;br /&gt;            Dalam bahasa jurnalistik, setiap kata harus bermakna, bahkan harus              bertenaga, dan bercita rasa. Kata bertenaga dengan cepat dapat              membangkitkan daya motivasi, persuasi, fantasi, dan daya imajinasi              pada benak khalayak.&lt;br /&gt;            Pendayagunaan kata pada dasarnya berkisar pada dua persoalan pokok.              Pertama, ketepatan memilih kata untuk mengungkapkan sebuah gagasan,              hal, atau barang yang akan diamanatkan. Ketepatan pilihan kata              mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan              gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar,              seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau              pembicara.&lt;br /&gt;            Ketepatan memilih kata dapat dicapai apabila kita sebagai penulis              atau jurnalis menguasai dengan baik masalah etimologi, semantik,              tata bahasa, ejaan, frasa, klausa, istilah, ungkapan, idiom, jargon,              singkatan, akronim, peribahasa, kamus, dan ensiklopedia.&lt;br /&gt;            Kedua, kesesuaian atau kecocokan dalam menggunakan kata tadi. Hal              ini lebih banyak dipengaruhi faktor teknis tata bahasa, faktor              psikologis narasumber dan jurnalis, konteks situasi dan maksud pesan              yang disampaikan, serta aspek-aspek etis, etnis, dan sosiologis              khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            Menyimpang dari Kaidah&lt;br /&gt;            Bahasa jurnalistik atau bahasa pers, memang merupakan salah satu              ragam bahasa kreatif bahasa Indonesia di samping terdapat juga ragam              bahasa akademik (ilmiah), ragam bahasa bisnis, ragam bahasa              filosofik, dan ragam bahasa literer (sastra).&lt;br /&gt;            Bahasa jurnalistik merupakan bahasa yang digunakan oleh wartawan              dalam menulis karya-karyanya di media massa. Tulisan itu pun              memiliki karakter yang berbeda-beda berdasarkan jenisnya.&lt;br /&gt;            Bahasa yang digunakan untuk menuliskan laporan investigasi tentu              lebih cermat bila dibandingkan dengan yang digunakan dalam penulisan              features. Ada pula gaya yang yang khas pada penulisan jurnalisme              perdamaian. Yang digunakan untuk menulis berita utama (ada yang              menyebut laporan utama, forum utama) juga akan berbeda dengan bahasa              untuk menulis tajuk dan features.&lt;br /&gt;            Karena berbagai keterbatasan yang dimiliki surat kabar (ruang, waktu),              bahasa jurnalistik memiliki sifat yang khas, yaitu singkat, padat,              sederhana, lancar, jelas, lugas, dan menarik. Kosa kata yang              digunakan dalam bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan bahasa              dalam masyarakat.&lt;br /&gt;            Surat kabar dibaca oleh semua lapisan masyarakat yang tidak sama              tingkat pengetahuannya. Maka bahasa jurnalistik harus dapat dipahami              dalam ukuran intelektual minimal. Juga tidak setiap orang memiliki              cukup waktu untuk membaca surat kabar, maka bahasa jurnalistik              mengutamakan kemampuan untuk menyampaikan semua informasi yang              dibawa kepada pembaca secepatnya dengan daya komunikasinya.&lt;br /&gt;            Muncul keluhan bahwa bahasa Indonesia di media massa menyimpang dari              kaidah baku. Banyak ditemukan kemubaziran bahasa wartawan pada aspek              gramatikal (tata bahasa), leksikal (pemilihan kosakata) dan              ortografis (ejaan). Berdasarkan aspek kebahasaan,&lt;br /&gt;            kesalahan tertinggi yang dilakukan wartawan terdapat pada aspek              gramatikal dan kesalahan terendah pada aspek ortografi. Berdasarkan              jenis berita, berita olahraga memiliki frekuensi kesalahan tertinggi              dan frekuensi kesalahan terendah pada berita kriminal.&lt;br /&gt;            Penyebab wartawan melakukan kesalahan bahasa dari faktor penulis              karena minimnya penguasaan kosa kata, pengetahuan kebahasaan yang              terbatas, dan kurang bertanggung jawab terhadap pemakaian bahasa,              karena kebiasaan lupa dan pendidikan yang belum baik. Faktor di luar              penulis, yang menyebabkan wartawan melakukan kesalahan dalam              menggunakan bahasa Indonesia karena keterbatasan waktu menulis, lama              kerja, banyaknya naskah yang dikoreksi, dan tidak tersedianya              redaktur bahasa dalam surat kabar.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            Mencerdaskan dan Memuliakan&lt;br /&gt;            Penyimpangan morfologis, misalnya, di mana sering terjadi pada judul              berita surat kabar yang memakai kalimat aktif, yaitu pemakaian kata              kerja tidak baku dengan penghilangan afiks. Afiks pada kata kerja              yang berupa prefiks atau awalan dihilangkan.&lt;br /&gt;            Ada juga kesalahan sintaksis, yaitu berupa pemakaian tata bahasa              atau struktur kalimat yang kurang benar sehingga sering mengacaukan              pengertian. Hal ini disebabkan logika yang kurang bagus.&lt;br /&gt;            Kesalahan kosakata pun sering terjadi. Kesalahan ini sering              dilakukan dengan alasan kesopanan (eufemisme) atau meminimalkan              dampak buruk pemberitaan. Kesalahan ejaan hampir setiap kali              dijumpai dalam surat kabar.&lt;br /&gt;            Yang cukup mengganggu adalah kesalahan pemenggalan. Terkesan setiap              ganti garis pada setiap kolom kelihatan asal penggal saja. Kesalahan              ini disebabkan pemenggalan bahasa Indonesia masih menggunakan              program komputer berbahasa Inggris. Hal ini sudah bisa diantisipasi              dengan program pemenggalan bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;            Untuk menghindari beberapa kesalahan seperti diuraikan di atas              adalah melakukan kegiatan penyuntingan baik menyangkut pemakaian              kalimat, pilihan kata, dan ejaan. Selain itu, pemakai bahasa              jurnalistik yang baik tercermin dari kesanggupannya menulis paragraf              yang baik.&lt;br /&gt;            Untuk menulis paragraf yang baik tentu memerlukan persyaratan              menulis kalimat yang baik pula. Paragraf yang berhasil tidak hanya              lengkap pengembangannya tetapi juga menunjukkan kesatuan dalam              isinya. Paragraf menjadi rusak karena penyisipan-penyisipan yang              tidak bertemali dan pemasukan kalimat topik kedua atau gagasan pokok              lain ke dalamnya.&lt;br /&gt;            Bahasa jurnalistik merupakan bahasa komunikasi massa. Dengan fungsi              yang demikian itu, bahasa jurnalistik itu harus jelas dan mudah              dibaca dengan tingkat ukuran intelektual minimal.&lt;br /&gt;            Mengacu pada JS Badudu, bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas,              yaitu singkat, padat, sederhana, lugas, menarik, lancar, dan jelas.              Itu mengingat surat kabar dibaca oleh semua lapisan masyarakat yang              tidak sama tingkat pengetahuannya.&lt;br /&gt;            Demikianlah, bahasa adalah senjata seorang jurnalis, dan kata-kata              adalah pelurunya. Seorang jurnalis tidak boleh menggunakan senjata              untuk membunuh orang dan bahkan binatang yang tidak berdosa. Ia              hanya boleh menggunakan senjata itu untuk mencerdaskan dan              memuliakan masyarakat serta membela dan menjunjung tinggi kehormatan              negara dan bangsa.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            &lt;i&gt;Penulis adalah Kepala Subbid Informasi Pusat Bahasa, Depdiknas.&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6956038590997371782-4240125611937152266?l=jurnalis-group.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/feeds/4240125611937152266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/03/kesalahan-bahasa-jurnalistik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/4240125611937152266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/4240125611937152266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/03/kesalahan-bahasa-jurnalistik.html' title='Kesalahan Bahasa Jurnalistik '/><author><name>Team Kita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-ZXNR8Yy9Aks/TzIETtpQRwI/AAAAAAAAAQc/vLYjCSWB2eg/s220/Sunset.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6956038590997371782.post-1268506128953093703</id><published>2009-03-10T01:50:00.000-07:00</published><updated>2009-03-10T01:55:36.153-07:00</updated><title type='text'>Kode Etik Jurnalis Televisi</title><content type='html'>MUKADIMAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menegakkan martabat, intergeritas dan mutu jurnalis televisi Indonesia, serta bertumpu kepada kepercayaan masyarakat, dengan ini Ikatan Jurnalis Televisi (IJTI), menetapkan Kode Etik Jurnalis, yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh seluruh Televisi Indonesia. Jurnalis televisi Indonesia mengumpulkan dan menyajikan berita yang benar dan menarik minat masyarakat serta jujur dan bertanggungjawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I. KETENTUAN UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kode Etik Jurnalis Televisi adalah penuntun perilaku jurnalis televisi dalam melaksanakan profesinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II. KEPRIBADIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalis televisi Indonesia adalah pribadi yang mandiri dan bebas dari benturan kepentingan, baik yang nyata maupun terselubung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalis televisi Indonesia menyajikan berita secara akurat, jujur, dan berimbang, dengan mempertimbangkan hati nurani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalis televisi Indonesia tidak menerima imbalan apapun berkaitan dengan profesinya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III. CARA PEMBERITAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menayangkan sumber dan bahan berita secara akurat, jujur dan berimbang, jurnalis televisi Indonesia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.   Selalu mengevakuasi informasi semata-mata berdasarkan kelayakan berita, menolak sensasi, berita menyesatkan, memutarbalikkan fakta, fitnah, cabul, dan sadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tidak menayangkan materi gambar maupun suara yang menyesatkan pemirsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tidak merekayasa peristiwa, gambar maupun suara untuk dijadikan berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Menghindari berita yang memungkinkan benturan yang berkaitan dengan masalah SARA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  Menyatakan secara jelas berita-berita yang bersifat fakta, analisis, komentar, dan opini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.  Tidak mencampur-adukkan berita dengan advertorial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Mencabut atau meralat pada kesempatan pertama setiap pemberitaan yang tidak akurat, dan memberikan kesempatan hak jawab secara proposional bagi pihak yang dirugikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Menyajikan berita dengan menggunakan bahasa dan gambar yang santun dan patut, serta tidak melecehkan nilai-nilai kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Menghormati embargo dan off the record &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalis televisi Indonesia menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalis televisi Indonesia dalam memberitakan kejahatan susila serta kejahatan anak di bawah umur, wajib menyamarkan identitas wajah dan suara tersangka maupun korban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalis televisi Indonesia manampuh cara yang tidak tercela untuk mencari bahan berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalis televisi Indonesia hanya menyiarkan bahan berita dari stasiun lain dengan izin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalis televisi Indonesia menunjukkan identitas kepada sumber berita jika diperlukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV. SUMBER BERITA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalis televisi Indonesia menghargai harkat dan martabat serta hak pribadi sumber berita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalis televisi Indonesia melindungi sumber berita yang tidak diungkap jati dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalis televisi Indonesia memperhatikan kredibilitas dan kompetensi sumber berita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V. KEKUATAN KODE ETIK &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kode Etik Televisi ini secara moral mengikat setiap jurnalis televisi Indonesia yang tergabung dalam Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6956038590997371782-1268506128953093703?l=jurnalis-group.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/feeds/1268506128953093703/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/03/kode-etik-jurnalis-televisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/1268506128953093703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/1268506128953093703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/03/kode-etik-jurnalis-televisi.html' title='Kode Etik Jurnalis Televisi'/><author><name>Team Kita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-ZXNR8Yy9Aks/TzIETtpQRwI/AAAAAAAAAQc/vLYjCSWB2eg/s220/Sunset.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6956038590997371782.post-2382768415032933588</id><published>2009-03-01T14:33:00.000-08:00</published><updated>2009-03-01T14:34:45.858-08:00</updated><title type='text'>Jurnalistik Sastra</title><content type='html'>Pandangan I Nyoman Suaka tentang jurnalistik sastra (Bali Post, 22/2) cenderung menyimpulkan bahwa pers bisa berperan menurunkan ketegangan situasi jika menerapkan konsep berita bergaya sastra. Begitu dekat Suaka membawa jurnalistik yang dipertentangkannya kepada kondisi tertentu padahal variabelnya belum pasti saling menunjang. Tergantung dari sebab akibatnya, kapan jurnalistik itu berperan sebagai stabilisator. Agaknya, kesimpulan Suaka ini merupakan hipotesa yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM teknologi komunikasi modern kini, berita-berita saling berpacu merebut kesempatan pertama dengan bahasanya yang singkat, padat, berisi dan memukau. Berita iklan pun kini jadi saingan pers karena bahasa iklan yang lebih menukik, menusuk-nusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ada jurnalistik baru yang disebut "jurnalisme hati nurani" yang dicetuskan dalam buku karya Bill Kovach, ketua Committee of Concerned Journalist -- lembaga kewartawanan yang peduli kepada publik di Amerika Serikat. Ada sembilan elemen jurnalisme menurut Kovach yakni (1) kebenaran, (2) loyalitas, (3) disiplin verifikasi, (4) independensi, (5) pemantau kekuasaan, (6) forum publik, (7) menarik dan relevan, (8) komperenhensif dan proposional, dan (9) wartawan harus mengikuti hati nurani. Jurnalisme inikah yang disebut jurnalistik sastra karena ada sentuhannya kepada hati nurani? Karya Bill Kovach ini nampaknya juga sejalan dengan 10 pedoman penulisan berita yang dianjurkan oleh PWI pusat. Baik 9 elemen Bill Kovach ataupun 10 pedoman PWI tujuannya adalah tertatanya berita untuk menciptakan kondisi yang aman bagi publik atas berita-berita yang beredar. Bukan mengubah kondisi yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya Suaka terlambat menulis dan keburu waktu membuat kesimpulan. Gek Ary Suharsani lantas muncul dan mengoreksi Suaka (Bali Post, 29/2). Sampai tulisan kedua turun, Suaka (Bali Post, 7/3) hanya merevisi bagian tulisannya yang perlu diperjelas. Tak ada yang baru. Sebaiknya Suaka berdiri di tempat yang aman dan membiarkan jurnalistik itu berjalan apa adanya sejajar dengan hak jurnalistik sastra yang jadi dambaan Suaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya jurnalistik sastra itu muncul karena adanya akibat. Akibat kerusuhan, misalnya. Ada korban-korban. Ada provokator. Yang pertama mengungkap tabir kerusuhan itu antara lain memang jurnalistik. Yang menangkap provokatornya polisi. Yang meneruskan ceritanya adalah jurnalistik sastra yang mampu mengetuk hati para dermawan untuk menyumbangkan jutaan uangnya bagi para korban kerusuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaka dan Suharsani ternyata hanya mendiskusikan dalil-dalil 5W + 1H, bukan kepada persoalan pokok dari tulisan Suaka. Suharsani yang punya pengalaman mengikuti work shop jurnalistik sastra -- meski pandangannya luas -- juga tak bergeser dari persoalan sebenarnya. Substansi persoalan adalah, apakah jurnalistik sastra itu bisa mengubah keadaan, situasi dan kondisi yang berkembang? Karena persoalan itu berkait dengan sastra sebagai topik pemberitaan, persoalannya menjadi lain yang membuat pembaca ingin tahu apa sebenarnya yang disebut berita itu, apa sastra, apa sastra-berita, apa jurnalistik sastra, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali Terjadi&lt;br /&gt;Dari buku "Scholastic Journalism" (The IOWA State University Press) disebutkan, berita memiliki momentum yang sekali terjadi. Akurasinya terikat waktu saat berita itu meletus. Lewat satu menit saja, jika ada berita sama beredar, momentumnya sudah hilang. Yang tersisa hanyalah action, tindakan-tindakan, rumor, dan sebagainya. Jurnalistik hanya menyodorkan 5 W + 1H yang perlu ditelusuri pihak lain. Jika ada situasi berkembang akibat berita, itu sudah di luar jangkauan jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. A Reiching (ahli bahasa) menyatakan berita sebagai instrumen bahasa adalah perbuatan instrumental yang koperatif yang mengajak manusia untuk berbagai rasa. Berita menempatkan manusia pada kedudukan yang sama dan tanggung jawab yang sama pula. Jika ada berita seseorang hanya diam, tak berintegrasi, peran dan tanggung jawabnya rendah. Jadi berita memang mendorong seseorang mengambil peran dan tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah sastra? Dari buku Kamus Besar Bahasa Indonesia, penjelasan mengenai sastra malahan tidak menarik. Statis dan beku. Saya teringat ketika masih SMA di Surabaya puluhan tahun lampau. Bahasa Indonesia diajar oleh guru Iwan Simatupang, sastrawan eksistensialis yang masa itu dikenal sebagai pemberontak bahasa sastra yang beku. Pak Iwan mengatakan sastra lahir dari hati nurani manusia yang mengalami gejolak batin yang hebat. Ketidakmampuannya menghadapi kekerasan dan kezaliman, manusia melawannya dengan logika, kebenaran dan hati nurani. Dalam kegalauan yang campur aduk itu, sastra tidak menyuruh lawannya untuk menyerah tapi menghimpun kekuatan manusia menghadapi dunianya sendiri dan dunia di luar dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Albert Camus ("The Major Works of A.Camus") menyatakan sastra adalah ketegangan absurditas yang terus bergolak sampai manusia mencapai kesadaran puncak dengan pikiran terkontrol, penahanan diri terhadap tekanan-tekanan apapun, baik politis, sosial, ekonomi, dan sebagainya. Absurditas adalah kegilaan untuk mencapai kreativitas yang tinggi. Berkarya terus sampai manusia itu menemukan nilai-nilai yang terbaik dalam dirinya yakni hati nurani. Dengan meramu pendapat-pendapat tersebut disimpulkan bahwa jurnalistik sastra adalah jurnalistik yang sangat menghargai kedudukan manusia, menghargai waktu, berbagai rasa dengan orang lain, mendorong peran dan tanggung jawab yang sama. Mendorong manusia untuk mencapai kesadaran yang tinggi, yakni hati nurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beban Berat&lt;br /&gt;Begitu berat beban yang harus diemban jika jurnalistik sastra itu diproyeksikan kepada kenyataan yang sebenarnya terjadi di Indonesia yang segalanya serba semu, paradoksal. Seorang yang penampilannya semula meyakinkan untuk dianggap sebagai pemimpin bangsa ternyata kenyataannya tidak begitu. Supremasi hukum selalu disuruh-suruh tegakkan tapi kejahatan korupsi dibolehkan jalan. Ada kredo hukum yang sangat terkenal berbunyi "lebih baik membebaskan orang bersalah daripada menghukum orang yang benar". Kedengarannya seperti kredo yang dilematis, lebih baik mengambil langkah ini daripada yang itu. Jurnalistik hampir tak punya sisa menyoroti kenyataan itu, tapi jika yang disoroti tetap tebal muka, jurnalistik mau apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya jurnalistik sastra itu muncul ketika ada musuh besar yang harus dihadapi yakni musuh ras diskriminasi dan perbudakan di Amerika, Afrika. Lalu merembet ke Eropa, Timur Tengah, India, dll. Pengarang-pengarang besar dunia sampai perlu turun jadi wartawan perang (!) mencegah meluasnya bencana moral tersebut. Ada nama-nama besar seperti Albert Camus, Loei Fisser, sampai Arthur Koestler. Tetapi keganasan dunia toh tetap terjadi. Kenyataan itukah yang barangkali jadi ganjalan Suaka yang mengeluhkan jurnalistik kita kurang mengambil peran mewadahi menghadapi gejolak situasi yang terus berkembang? Barangkali bukan hanya Suaka yang patut mengeluh, semua pembaca koran yang nuraninya bergetar tak pernah berhenti batinnya tersiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggerak jurnalistik sastra di Indonesia terbilang hitungan jari. Hanya ada nama-nama Gunawan Muhamad, M Sobari, Bur Rasuanto, hingga Arswendo. Itupun sebagian sudah bergeser ke dunia film, suatu media yang dianggapnya lebih banyak bisa menggali hati nurani manusia? Jika ada 1% saja dari seluruh pembaca koran memahami pentingnya jurnalistik sastra, sudah untung. Selebihnya adalah para pembaca yang bingung tak pernah mengerti apa sebenarnya yang terjadi di Indonesia ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Redaksi:&lt;br /&gt;Dengan dimuatnya tulisan ini, persoalan seputar jurnalistik sastra kami anggap sudah cukup.&lt;br /&gt;Terimakasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6956038590997371782-2382768415032933588?l=jurnalis-group.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/feeds/2382768415032933588/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/03/jurnalistik-sastra.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/2382768415032933588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/2382768415032933588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/03/jurnalistik-sastra.html' title='Jurnalistik Sastra'/><author><name>Team Kita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-ZXNR8Yy9Aks/TzIETtpQRwI/AAAAAAAAAQc/vLYjCSWB2eg/s220/Sunset.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6956038590997371782.post-2641264687675190120</id><published>2009-03-01T14:18:00.000-08:00</published><updated>2009-03-01T14:22:45.434-08:00</updated><title type='text'>Jurnalis Konvensional</title><content type='html'>Jurnalistik konvesional dapat dikatakan adalah jurnalistik yang menggunakan media cetak maupun media elektronik seperti radio dan televisi. Terlepas dari segala bentuk definisi dari arti katanya, Jurnalisme juga dapat diartikan sebagai jurnalisme konvensional. Dalam jurnalisme konvensional, jurnalis masih berpedoman pada 5W+1H yaitu What, When, Where, Who, Why dan ditambah How.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paham dari jurnalisme konvensional adalah sebisa mungkin dan sesegera mungkin informasi dari media dapat dimengerti dan dipahami oleh khalayak luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat kabar merupakan bagian dari jurnalisme konvensional. Menurut Agee, surat kabar memiliki tiga fungsi utama dan fungsi sekunder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi utama media adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.to inform (menginformasikan kepada pembaca secara objektif tentang apa yang terjadi dalam suatu komunitas, negara dan dunia,&lt;br /&gt;   2.to comment (mengomentari berita yang disampaikan dan mengembangkannya ke dalam focus berita,&lt;br /&gt;   3.to provide (menyediakan keperluan informasi bagi pembaca yang membutuhkan barang dan jasa melalui pemasangan iklan di media surat kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi Sekunder surat kabar adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.untuk mengkampanyekan proyek-proyek yang bersifat kemasyarakatan, yang diperlukan sekali untuk membantu kondisi-kondisi tertentu,&lt;br /&gt;   2.memberikan hiburan kepada pembaca dengan sajian cerita komik,kartun dan cerita-cerita khusus,&lt;br /&gt;   3.melayani pembaca sebagai konselor yang ramah, menjadi agen informasi dan memperjuangkan hak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain surat kabar, radio dan televisi juga merupakan bagian dari jurnalisme konvensional. Radio merupakan media elektronik yang sangat luwes. Radio telah beradaptasi dengan perubahan dunia, dengan mengembangkan hubungan saling menguntungkan dan melengkapi dengan media lainnya. Koran atau surat kabar memperoleh julukan sebagai kekuatan keempat, maka radio siaran mendapat julukan kekuatan kelima atau the fifith estate. Karena radio siaran juga dapat melakukan fungsi kontrol sosial seperti halnya surat kabar, disamping empat fungsi media yang lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan radio siaran adalah daya langsung, daya tembus dan daya tarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ketiga media massa tersebut, televisi merupakan media yang paling berpengaruh pada kehidupan manusia. Televisi merupakan bentuk penyampaian jurnalisme konvensional yang banyak diminati oleh masyarakat luas. Hal ini disebabkan oleh karena televisi dengan tampilan audio visualnya sehingga suatu informasi yang disampaikan akan lebih mudah dimengerti dan dipahami oleh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Jurnalisme Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalisme online merupakan proses penyampaian informasi dengan menggunakan media internet. Internet mempermudah pekerjaan jurnalistik, sebab jurnalistik dapat dapat dilakukan melalui PC atau komputer. Dengan menggunakan internet sebagai alat reportase atau sumber informasi bagian media-media tradisional atau koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Ciri-ciri Jurnalisme Online&lt;br /&gt;         1.Sifatnya yang real time. Berita, kisah-kisah, peristiwa-peristiwa, bisa langsung dipublikasikan pada saat kejadian sedang berlangsung. Ini barangkali tidak terlalu baru untuk jenis media tradisional lain seperti TV, radio, telegraf, atau teletype.&lt;br /&gt;         2.Dari sisi penerbit, mekanisme publikasi real time itu lebih leluasa tanpa dikerangkengi oleh periodisasi maupun jadwal penerbitan atau siaran: kapan saja dan dimana saja selama dia terhubung ke jaringan Internet maka penerbit mampu mempublikasikan berita, peristiwa, kisah-kisah saat itu juga. Inilah yang memungkinkan para pengguna/pembaca untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan sebuah peristiwa dengan lebih sering dan terbaru.&lt;br /&gt;         3.Menyertakan unsur-unsur multimedia adalah karakteristik lain jurnalisme online, yang membuat jurnalisme ini mampu menyajikan bentuk dan isi publikasi yang lebih kaya ketimbang jurnalisme di media tradisional. Karakteristik ini, terutama sekali, berlangsung pada jurnalisme yang berjalan di atas web.&lt;br /&gt;         4.bersifat interaktif. Dengan memanfaatkan hyperlink yang terdapat pada web, karya-karya jurnalisme online dapat menyajikan informasi yang terhubung dengan sumber-sumber lain. Ini berarti, pengguna/pembaca dapat menikmati informasi secara efisien dan efektif namun tetap terjaga dan didorong untuk mendapatkan pendalaman dan titik pandang yang lebih luas -bahkan sama sekali berbeda.&lt;br /&gt;         5.Tidak membutuhkan organisasi resmi berikut legal formalnya sebagai lembaga pers. Bahkan dalam konteks tertentu organisasi tersebut dapat dihilangkan&lt;br /&gt;         6.Tidak membutuhkan penyuting/redaktur seperti yang dimiliki surat kabar konvensional sehingga tidak ada orang yang mampu membantu masyarakat dalam menentukan informasi mana yang masuk akal atau tidak.&lt;br /&gt;         7.Tidak ada biaya berlangganan kecuali langganan dalam mengakses internet sehingga komunikan atau audience memiliki kebebasan dalam memilih informasi yang diinginkan&lt;br /&gt;         8.Relatif lebih terdokumentasi karena tersimpan dalam jaringan digital&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan Jurnalisme Online, seperti yang tertulis dalam buku Online Journalism. Principles and Practices of News for The Web (Holcomb Hathaway Publishers, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Audience Control. Jurnalisme online memungkinkan audience untuk bisa lebih leluasa dalam memilih berita yang ingin didapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Nonlienarity. Jurnalisme online memungkinkan setiap berita yang disampaikan dapat berdiri sendiri sehingga audience tidak harus membaca secara berurutan untuk memahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Storage and retrieval. Online jurnalisme memungkinkan berita tersimpan dan diakses kembali dengan mudah oleh audience.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Unlimited Space. Jurnalisme online memungkinkan jumlah berita yang disampaikan / ditayangkan kepada audience dapat menjadi jauh lebih lengkap ketimbang media lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Immediacy. Jurnalisme online memungkinkan informasi dapat disampaikan secara cepat dan langsung kepada audience.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Multimedia Capability. Jurnalisme online memungkinkan bagi tim redaksi untuk menyertakan teks, suara, gambar, video dan komponen lainnya di dalam berita yang akan diterima oleh audience.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Interactivity. Jurnalisme online memungkinkan adanya peningkatan partisipasi audience dalam setiap berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Perbedaan Jurnalisme Konvensional dan Jurnalisme Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media yang digunakan dalam jurnalisme konvensional adalah media cetak seperti surat kabar,majalah, tabloid dan sebagainya, radio ataupun televisi. Sedangkan pada jurnalisme online menggunakan media internet untuk dapat menyampaikan informasi danberita kepada khalayaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media online dapat menyajikan berita dan informasi dalam wakyu yang sangat cepat. Bisa dapat hitungan menit bahkan detik. Ini juga menjadi perbedaan antara jurnalisme online dengan jurnalisme konvensional. Karena pada jurnalisme konvensional. Media cetak harus menunggu editan dari redaktur dan harus mencetaknya terlebih dahulu sebelum dikonsumsi oleh publik. Oleh karena itu kecepatan ini menjadi kekhasan media online meskipun media radio dan televisi yang juga dapat menyiarkan erita atau informasi secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita atau informasi yang disajikan oleh media online termasuk real time, Berita, kisah-kisah, peristiwa-peristiwa, bisa langsung dipublikasikan pada saat kejadian sedang berlangsung. Mungkin hal ini bukan merupakan hal yang baru bagi media radio dan media televisi yang notabene sebagai bentuk dari media konvensional, namun mekanisme dengan sifat publikasi real time, maka penerbit media online menjadi lebih leluasa dengan jadwal penerbitan atau siaran dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja selama terhubung dengan jaringan Internet sehingga ia mampu mempublikasikan berita dan peristiwa pada saat itu juga. Hal inilah yang memungkinkan para pengguna internet atau pembaca bisa mendapatkan informasi mengenai perkembangan sebuah peristiwa dengan lebih sering dan aktual. Lebih leluasa -tanpa dikerangkengi oleh periodisasi maupun jadwal penerbitan atau siaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi hal ini juga dapat menjadi kekurangan jurnalisme online karena arus dibuthkan internet untuk dapat membaca atau megatahui sebuah berita dan informasi yang disajikan. Berbeda dengan urnalisme konvensional yang bisa dinikmti kapan saja. Kita dapat membaca koran atau majalah ketika sedang dalam perjalanan, sambil tiduran, makan dan sebagainya. Kita juga dapar mendengarkan radio sembari mengerjakan aktivitas yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun saat ini dapat menggunakan media selain komputer untuk dapat mengakses inernet, tetap saja tidak praktis untuk dilakukan. Karena membutuhkan media lain seperti handphone misalnya untuk mengakses internet. Sedangkan setiap orang pasti mempunyai handphone yang berbeda-beda dan tingkat melek internet tiap orang pun berbeda. Sehingga dalam posisi ini jurnalisme konvensional empunyai kelebihan karena kepraktisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalisme konvensional juga lebih menjamin kebenaran berita atau informasi yang disampingkan dibandingkan dengan jurnalisme online.Maksudnya adalah seperti apa yang telah disampaikan diatas bahwa, karena siapa saja bisa melakukan proses jurnalisme online, bahkan orang yang tidak memiliki ketrampilan jurnalistik bisa bercerita melalui jurnalisme online. Dengan adanya website yang menyediakan layanan blog, masyarakat dapat menggunakan media tersebut untuk menulis apa yang mereka inginkan. Itulah sebabnya kenapa jurnalisme online dapat dikatakan tidak memiliki kredibilitas, karena orang ini sangat logis, orang yang tidak memiliki kemampuan jurnalistik pun dapat bercerita lewat jurnalisme online. Kebebasan terhadap aturan-aturan jurnalistik pun menjadi salah satu penyebabnya, dimana aturan-aturan baku jurnalistik seringkali diabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalisme online memungkinkan berita tersimpan dan diakses kembali dengan mudah oleh audience. Meskipun pada jurnalisme konvensional juga dapat melukan hal ini. Tetapi waktu yang dibutuhkan sangat lama apabila menggunakan media konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalisme online juga memungkinkan jumlah berita yang disampaikan atau ditayangkan kepada audiens dapat menjadi jauh lebih lengkap daripada media lainnya. Informasi yang dapat disampaikan melalui jurnalisme online dapat dilakukan secara cepat dan langsung kepada audiens, terlebih lagi jurnalisme online memungkinkan bagi tim redaksi untuk menyertakan teks, suara, gambar, video dan komponen lainnya di dalam berita yang akan diterima oleh audiens. Dalam media cetak hanya dapat tersampaikan teks maupun gambar saja. Dalam media radio hanya terdengar suara dan untuk media televisi sudah menyerupai media online. Tetapi televisi merupakan media konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jurnalisme konvensional, tata-tutur informasi, misalnya saja disajikan secara linear kepada para pembaca atau pemirsanya. Pemirsa atau pembaca jurnalisme konvensional harus mengikuti urut-urutan informasi yang telah ditentukan oleh penerbitnya: Dari kisah satu ke kisah kedua lalu ke kisah ketiga dan seterusnya. Tetapi dalam jurnalisme online, tata-tutur informasi dapat disajikan sedemikian rupa sehingga dapat dinikmati secara non-linear untuk mengakomodasi pengguna atau pemirsanya. Seseorang dapat menikmati publikasi online dari kisah terakhir lalu melompat ke kisah sebelumnya atau ke kisah yang pernah dipublikasi sekian tahun sebelumnya dan bahkan ke sumber informasi yang sama sekali berbeda pada saat sedang mengkonsumsi informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalisme online merupakan media yang digunakan oleh masyarakat supra rasional. Karena manusia biasa tidak akan betah mengakses jurnalisme online terlalu sering Jurnalisme konvensional dapat dinikmati kapanpun masyarakat membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalisme online menjadi media yang bisa dikonsumsi secara massa dalam waktu yang bersamaan. Dengan cepatnya koneksi internet, maka jurnalisme dapat dinikmati dari berbagai tempat. Berbeda dengan jurnalisme konvensional yang hanya terbatas pada suatu daerah misalnya. Tetapi untuk televise, saat ini sudah semakin canggih dengan adanya antenna parabola, kita juga dapat menonton program-program dari luar negeri yang mungkin orang luar negeri pun juga menonton acara yang sama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6956038590997371782-2641264687675190120?l=jurnalis-group.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/feeds/2641264687675190120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/03/jurnalis-konvensional.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/2641264687675190120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/2641264687675190120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/03/jurnalis-konvensional.html' title='Jurnalis Konvensional'/><author><name>Team Kita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-ZXNR8Yy9Aks/TzIETtpQRwI/AAAAAAAAAQc/vLYjCSWB2eg/s220/Sunset.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6956038590997371782.post-5502413181050545887</id><published>2009-03-01T13:56:00.000-08:00</published><updated>2009-03-01T14:12:18.813-08:00</updated><title type='text'>Jurnalistik Online di Internet</title><content type='html'>Jurnalistik sangat erat kaitannya dengan istilah jurnalisme, jurnalisme sendiri berarti bidang disiplin dalam mengumpulkan, melaporkan, dan menganalisis data fakta atau informasi yang mengenai kejadian aktual kemudian melaporkannya ke khalayak. Orang yang mempraktekkan kegiatan jurnalistik disebut jurnalis atau wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apa yang dimaksud dengan online? Online istilah bahasa dalam internet yang artinya sebuah informasi yang dapat diakses dimana saja selama ada jaringan internet.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu jurnalisme online adalah perubahan baru dalam ilmu jurnalistik. Laporan jurnalistik dengan menggunakan teknologi internet maka disebut dengan media online yang menyajikan informasi cepat dan mudah diakses dimana saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media online detik,com di Indonesia yang telah sukses menyajikan ragam berita, selain itu kantor berita Nasional Antara juga menggunakan teknologi internet. Seiring berjalannya waktu, media online mulai bermunculan seperti astaga.com, satunet.com, suratkabar.com, berpolitik.com, dan ok-zone.com. dengan lahirnya media online maka media cetakpun tidak mau kalah, dengan dua penyajian media cetak dan media online seperti kompas.com, temporaktif.com, republika.com, pikiran-rakyat.com, klik-galamedia.com. dan masih banyak lagi. Itu adalah langkah baru berkembangnya teknologi yang telah melahirkan jurnalisme online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Kompas Cyber Media (KCM) Ninok Leksono menyebutkan, kehadiran media online ini jelas telah mengubah paradigma baru pemberitaan, yakni event on the making. Maksudnya, berita yang muncul tidak disiarkan beberapa menit, jam, hari, atau minggu, tetapi begitu terjadi langsung di-upload (dimasukkan) ke dalam situs web media online. Itulah keunggulan media online yang serba cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajari dan Pahami Internet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai calon jurnalis memahami internet sangatlah penting, karena teknologi internet memudahkan melaksanakan kegiatan kejurnaslitikan, internet harus menjadi bagian hidup jurnalis. Dilihat dari tahun sebelumnya jauh sebelum internet berkembang di Indonesia jurnalis sangat kesulitan melaporkan kegiatan kejurnalitikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet membawa berkah bagi perkembangan dunia jurnalistik, begitu juga para pers kampus yang sudah kekeringan dana untuk percetakan kini beralih menggunakan teknologi internet dengan gratis seperti weblog yang disingkat menjadi blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Blog sudah tidak terhitung lagi, tapi Blog tidak bisa sepenuhnya disebut dengan kegiatan kejurnalistikan, perlu proses yang cukup signifikan menyatakan Blog sebagai jurnalisme online.&lt;br /&gt;Memang tidak semua blog berisikan laporan jurnalistik tergantung pengelolanya tapi banyak yang memang berisikan laporan jurnalistik bermutu. Senior Editor Online Journalism Review, J.D Lasica pernah menulis bahwa blog merupakan salah satu bentuk jurnalisme dan bisa dijadikan sumber untuk berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, setidaknya kita sebgai pelajar/mahasiswa jurnalistik perlu andil dalam perkembangan teknologi, salah satunya dengan mempelajari dan memahami internet. Apalagi sekarang ini di SMA maupun di perguruan tinggi, mayoritas ada pelajaran/ ektra kurikuler jurnalistik. seperti penjelasan sebelumnya internet di zaman sekarang ini sudah menjadi kebutuhan pokok, khususnya bagi yang menggeluti dunia jurnalistik. Salam, Jurnalistik (Dari berbagai sumber)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6956038590997371782-5502413181050545887?l=jurnalis-group.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/feeds/5502413181050545887/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/03/jurnalistik-online-di-internet.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/5502413181050545887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/5502413181050545887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/03/jurnalistik-online-di-internet.html' title='Jurnalistik Online di Internet'/><author><name>Team Kita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-ZXNR8Yy9Aks/TzIETtpQRwI/AAAAAAAAAQc/vLYjCSWB2eg/s220/Sunset.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6956038590997371782.post-7498582186810418117</id><published>2009-02-27T18:21:00.000-08:00</published><updated>2009-02-27T18:28:22.046-08:00</updated><title type='text'>Panduan Menulis Berita </title><content type='html'>&lt;p&gt; Redaksi jurnalis-group sangat mengapresiasi kontribusi informasi dari khalayak, ya... dari Anda sekalian. Karenanya, jangan pernah ragu dan "takut salah" untuk berbagai informasi ke publik melalui jurnalis-group. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Informasi yang ada kirim, pada galibnya memuat unsur-unsur berita. Itu artinya, dalam skala tertentu, Anda juga termasuk kategori pewarta, atau penyebar berita, atau wartawan. Nah, berikut ini adalah tips sederhana yang bisa "menyulap" anda menjadi seorang juru warta: &lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Buatlah 	judul yang sederhana (&lt;em&gt;simple&lt;/em&gt;) dan tepat sasaran (&lt;em&gt;straightforward&lt;/em&gt;). 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ingatlah 	bahwa judul itu seperti tanda lalu lintas yang akan mengarahkan pemakai 	jalan. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Buatlah 	sub judul untuk setiap item berita atau informasi yang Anda anggap 	penting. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sebaiknya, 	tulisan pendek tapi ringkas. Satu alinea idealnya hanya terdiri dari 65 	karakter. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika 	perlu uraian yang panjang, harus dipecah-pecah menjadi beberapa judul   tulisan, yang tersambung melalui 	multiple hyperlink. Selain itu, pembaca tidak   suka tulisan yang panjang dan harus 	men-scroll jauh ke bawah.  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gunakan 	tabel atau poin/angka urut ke bawah (seperti contoh tulisan ini).   Pembaca lebih mudah dan lebih nyaman 	membaca uraian berurut ke bawah daripada   	membaca alinea yang panjang. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sebisa 	mungkin menerapkan prinsip piramida terbalik -- yang penting di atas. Cara 	penulisan piramida terbalik membantu pembaca mendapatkan informasi yang 	penting segera tanpa harus membaca sampai selesai.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt; Nah, tunggu apa lagi. Jika Anda mendengar dan melihat peristiwa, ubahlah menjadi berita dan kirim ke jurnalis-group. Setidaknya ada tiga manfaat langsung yang langsung Anda petik: &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Pertama: Anda menjadi manusia berguna karena telah berbagi informasi ke khalayak. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kedua: Anda bisa mengembangkan bakat tulis-menulis yang kelak akan bermanfaat, bagi diri Anda, dan bagi orang-orang yang dekat di hati Anda. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt; Nah... tunggu apa lagi! &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6956038590997371782-7498582186810418117?l=jurnalis-group.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/feeds/7498582186810418117/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/02/panduan-menulis-berita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/7498582186810418117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/7498582186810418117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/02/panduan-menulis-berita.html' title='Panduan Menulis Berita '/><author><name>Team Kita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-ZXNR8Yy9Aks/TzIETtpQRwI/AAAAAAAAAQc/vLYjCSWB2eg/s220/Sunset.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6956038590997371782.post-7144938813978923642</id><published>2009-02-25T10:26:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T10:34:10.964-08:00</updated><title type='text'>Mengarah Ke Blog Dan Koran</title><content type='html'>&lt;p&gt;Apakah Anda Sudah Memiliki Blog?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika Anda adalah salah satu penulis yang berkata, "Apa itu blog?", sekaranglah waktunya untuk mengetahuinya. Kata "blog" adalah kependekan dari "weblog", yang merupakan jurnal online di mana penulis bisa menulis apa pun yang dia mau, menerbitkannya di internet, dan mengundang pembacanya untuk memberikan komentar. Singkatnya, blog adalah sebuah situs yang menarik. Blog merupakan sebuah fenomena abad ke-21 -- blog jauh lebih laris daripada buku Harry Potter yang terakhir.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam "The New Influencers", sebuah buku tentang blog, Paul Gillin menulis bahwa pada pertengahan tahun 2006, jumlah pengguna blog (blogger) adalah 50 juta orang dan jumlah itu terus meningkat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apa arti blog bagi penulis? Banyak, khususnya bagi mereka yang ingin menulis di koran. Blog dapat membantu agar tulisan kita terpublikasi dan mendapat bayaran melalui tiga cara utama:&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Blog menyediakan forum langsung bagi tulisan kita&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt; Blog memberikan sumber penyelidikan yang bernilai &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt; Blog memungkinkan kita masuk dalam ruang berita koran di mana kita ingin menulis.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;Menulis Blog&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Anda dapat mulai menulis blog hari ini dan menerbitkan apa pun yang ingin Anda bagi kepada dunia. Banyak orang yang bukan penulis profesional menggunakan blog untuk menulis tentang perjalanan, hobi, dan pendapat mereka. Perusahaan menggunakan blog untuk mempromosikan produk mereka. Sebagai seorang penulis, Anda dapat menggunakan blog untuk menulis pendapat Anda, tukar tautan dengan situs lain, mengeksplorasi buku-buku atau artikel-artikel yang ingin Anda tulis, atau memerlihatkan contoh tulisan Anda. Anda dapat memasang seluruh tulisan Anda atau hanya beberapa paragraf pertama dengan tautan yang memungkinkan pembaca membaca seluruh artikel Anda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Blog bisa menjadi batu lompatan untuk menulis tulisan di koran dan media lain. Di tengah-tengah bencana Badai Katrina kemarin misalnya, blogger menjadi sumber berita terbaik, begitu dikutip di sebuah media. Beberapa koran mulai menggunakan "blogger lokal" untuk melaporkan kegiatan-kegiatan lokal yang tidak dapat diliput oleh staf redaksi mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Terkadang, sebuah blog yang populer bisa merujuk pada publikasi yang dibayar. Dalam kolom Mediabistro baru-baru ini, Natalie Bovis-Nelson menceritakan bagaimana blognya tentang minuman keras, The Liquid Muse, menjadi terkenal. "Saya mencoba menulis sebuah tulisan tentang anggur untuk Majalah Northern Virginia dan menggunakan blog saya untuk menawarkan tulisan saya. Setelah melihat seluruh tulisan saya, seorang editor majalah itu memberi saya kolom minuman keras untuk saya isi setiap bulannya." Bovis-Nelson mengatakan bahwa blognya telah menjadi batu pijakan bagi kariernya sebagai penulis lepas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menulis di blog tidak melulu untuk mencari uang, meski ada juga penulis yang menulis blog (ghost-blog) untuk organisasi dan perusahaan. Blog juga memungkinkan kita untuk memasang iklan. Pada kenyataannya, beberapa blog menjadi sangat populer sehingga banyak sponsor menghubungi pemilik blog untuk bisa memasang iklan di blog. Namun demikian, tujuan utama dari menulis blog adalah ekspresi diri dan agar tulisan Anda mendapatkan perhatian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karakrter menulis blog mirip dengan menulis di internet. Tulisan blog biasanya pendek. Blog menghubungkan tautan ke situs-situs lain. Sering kali menukar tautan agar blognya semakin ramai dikunjungi. Blog biasanya disertai dengan grafik dan gambar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kulitas blog biasannya dinilai dari jumlah pembaca dan pemberi komentar. Seorang penulis blog fokus pada satu bidang dan terus berkecimpung dalam bidang itu. Anda tidak akan mendapat pembaca jika Anda terus-menerus berganti fokus tulisan. Namun Anda dapat mulai memisahkan blog dalam jenis-jenis yang berbeda. Menggunakan kata- kata kunci yang membuat blog Anda berada pada mesin pencari akan membantu Anda mendapatkan pembaca.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penulis-penulis blog terbaik menulis dengan suara yang berbeda. Nikmati kebebasan menulis blog untuk mengeluarkan diri Anda yang sebenarnya, apakah itu bijaksana, hangat, atau jenaka. Anggap tulisan blog sebagai sebuah surat untuk seorang teman -- atau lima puluh juta teman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jangan penuhi blog dengan tulisan tentang Anda sendiri. Tawarkan tulisan-tulisan yang bernilai untuk pembaca. Anda mungkin perlu melakukan beberapa penyelidikan dan wawancara agar tulisan yang Anda sampaikan tidak ketinggalan zaman dan selalu segar. Seperti media lain, sertakan sumbernya saat Anda mengutip tulisan orang lain. Jangan gunakan gambar atau artikel tanpa izin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penting untuk sesering munking mengirim tulisan blog. Penulis blog paling terkenal menulis blog baru setiap hari dan mengundang komentar, menjaga agar terus terjadi perbincangan. Untuk penulis, menulis blog bisa menjadi latihan yang bagus untuk memulai hari dan juga cara yang bagus untuk mengusir rasa sedih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Memberikan editor tautan menuju blog Anda bisa jadi menarik mereka untuk memberikan Anda bayaran untuk menulis, terutama jika komentar- komentar dari para pembaca menunjukkan bahwa orang-orang tertarik dengan subjek tulisan Anda. Tidak ada jaminan, namun menulis blog adalah cara untuk memercepat proses keengganan dalam menulis, terutama jika Anda menulis tentang suatu bidang yang tidak pernah ditulis oleh orang lain. Penulis blog yang sudah dikatakan pakar dalam subjek tertentu diundang untuk menulis artikel, kolom, dan proposal buku oleh para editor yang membaca tulisan mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bersamaan dengan manfaat, ada beberapa yang perlu diperhatikan:&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt; Jangan karena fasilitas blog cepat dan gratis, lalu Anda seenaknya menulis. Periksa dan sempurnakan blog Anda sebelum dikirim. Anda tidak akan pernah tahu siapa yang akan membaca tulisan Anda.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Sebuah blog itu untuk konsumsi publik. Jangan kirim tulisan apa pun yang pribadi, yang mungkin dapat memermalukan orang lain, atau yang mungkin dianggap mencermarkan nama orang lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Jika tujuan Anda hanya menulis dan agar orang lain membacanya, tulislah blog dengan bebas. Bersenang-senanglah. Namun jika Anda ingin membangun karier sebagai penulis lepas yang dibayar, jangan berikan tulisan terbaik Anda. Gunakan blog untuk memberikan contoh, untuk memerlihatkan ide, dan agar orang memerhatikan Anda dan bidang fokus tulisan Anda. Simpan tulisan Anda yang terbaik untuk artikel dan buku.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;Blog Sebagai Sumber Penyelidikan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Blog membantu Anda tetap "up to date" dengan bidang tulisan yang Anda geluti dan memberikan informasi yang Anda butuhkan untuk tulisan Anda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meski kebanyakan blog tidak bisa disunting dan keakuratannya tidak terjamin, namun blog menyediakan tautan ke sumber lain, nama pakar- pakar penulis, resensi produk dan buku, dan banyak lainnya. Anda mungkin juga dapat menemukan sumber yang sangat berguna pada bagian komentar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sifat interaktif blog memungkinkan Anda untuk memulai diskusi dengan blogger lain, yang mungkin menuju pada adanya lebih banyak informasi. Jika seorang blogger dirasa pantas untuk dimintai informasi, Anda dapat mengatur sebuah percakapan. Tuliskan sumber jika Anda mengutip blog atau beberapa baris tulisan orang lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untungnya, Anda tidak perlu mencari jutaan blog untuk kebutuhan penelitian Anda. Google Alerts, Technorati, Blogrankings, dan Bloglines adalah beberapa situs dari banyak situs lain yang akan membantu Anda mencari blog dengan subjek yang Anda perlukan untuk kebutuhan penelitian Anda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mencari Pasar Koran Melalui Blog&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekarang ini editor dan reporter dari banyak koran harian besar dan kecil memiliki blog. Mengapa? Mereka membuat blog dengan alasan yang sama saat mereka membuat halaman situs dan mulai memasang berita online: untuk bersaing dalam media intenet yang menyediakan informasi instan. Blog memampukan mereka menyediakan perkembangan terakhir berita-berita terbaru, menerbitkan topik-topik yang tidak cocok jika ditampilkan di koran, dan memberi ruang pada para penulisnya untuk menceritakan hal-hal di belakang artikel yang mereka tulis. Blog juga mendorong pembaca untuk berpartisipasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Reporter yang diminta menulis blog tanpa gaji ekstra mungkin tidak akan senang dalam menulis blog, namun blog koran adalah tambang emas bagi penulis lepas. Dengan membaca keputusan-keputusan di belakang tulisan yang diterbitkan, penulis lepas akan mengetahui apa yang editor cari. Misalnya, saat seorang pembaca mengeluhkan tidak adanya ulasan mengenai suatu pertunjukkan, editor sebuah redaksi koran menjelaskan dalam blognya aspek-aspek apa dalam pertunjukan itu yang dia inginkan untuk diulas. Penjelasan itu jauh lebih personal dan eksplisit daripada panduan yang tersedia di situs koran.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Blog koran menyingkapkan ruang redaksi mereka dan memungkinkan Anda terlibat dalam diskusi yang dapat membantu Anda benar-benar memahami tulisan seperti apa yang mereka inginkan. Anda tidak hanya mendengar, namun Anda juga bisa memberi komentar dan mungkin menautkan setiap subjek yang ada kepada blog Anda sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apakah Anda Harus Menulis Blog?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Blog itu instan, personal, dan interaktif, namun berpikirlah sebelum Anda menulis blog. Apakah menulis blog akan meningkatkan karier Anda atau hanya akan memenuhi ego Anda? Apakah menulis blog akan menyita waktu Anda dalam mengerjakan proyek tulisan yang lain?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagai seorang penulis dengan sebuah buku baru yang akan dipublikasikan, saya setuju dengan penerbit saya bahwa saya harus menggunakan blog sebagai media kampanye untuk menjadi penulis lepas di sebuah redaksi koran. Saya sangat menikmati karena saya bisa membicarakan karier saya sebagai penulis lepas dan memiliki kesempatan untuk memberikan tips dan tautan kepada penulis lain melalui blog. Saya suka saat pembaca memberi respons. Menulis blog membutuhkan waktu, tapi menurut saya layak dilakukan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mudah untuk menulis sebuah blog. Banyak perusahaan menyediakan fasilitas blog gratis, sebut saja The Diary, Squarespace, Blogthing, and Blogger. Cari situs lain di mesin pencari dengan mengetik "situs penyedia blog gratis".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meskipun Anda belum berminat menulis blog, cobalah untuk mulai membaca blog. Karena jika tidak, Anda berarti telah melewatkan sebuah wadah superluas untuk orang-orang di seluruh dunia bisa berkomunikasi dan peluang untuk meningkatkan karier Anda sebagai penulis lepas. (t/Dian)&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Diterjemahkan dari:&lt;br /&gt; Nama situs : Writing-World.com&lt;br /&gt; Judul asli artikel  : Defining Editorial Roles&lt;br /&gt; Penulis    : Sue Fagalde Lick&lt;br /&gt; Alamat URL    : http://writing-world.com/freelance/blogs.shtml&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6956038590997371782-7144938813978923642?l=jurnalis-group.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/feeds/7144938813978923642/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/02/mengarah-ke-blog-dan-koran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/7144938813978923642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/7144938813978923642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/02/mengarah-ke-blog-dan-koran.html' title='Mengarah Ke Blog Dan Koran'/><author><name>Team Kita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-ZXNR8Yy9Aks/TzIETtpQRwI/AAAAAAAAAQc/vLYjCSWB2eg/s220/Sunset.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6956038590997371782.post-2420724219908133452</id><published>2009-02-25T09:55:00.000-08:00</published><updated>2009-03-01T13:03:34.742-08:00</updated><title type='text'>Buku Tamu</title><content type='html'>&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;Jurnalis Group Indonesia&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;ID&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;Indonesia - Jatim&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;Blitar&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;ZIP: 66123&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6956038590997371782-2420724219908133452?l=jurnalis-group.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/feeds/2420724219908133452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/02/buku-tamu.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/2420724219908133452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/2420724219908133452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/02/buku-tamu.html' title='Buku Tamu'/><author><name>Team Kita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-ZXNR8Yy9Aks/TzIETtpQRwI/AAAAAAAAAQc/vLYjCSWB2eg/s220/Sunset.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6956038590997371782.post-2531752031835113353</id><published>2009-02-24T15:13:00.000-08:00</published><updated>2009-02-24T15:14:47.307-08:00</updated><title type='text'>5 Langkah Seorang Penulis Berhasil</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Alasan utama mengapa banyak orang teknis -- sehebat apa pun ia dalam hal teknis -- mengalami kesulitan dalam menulis adalah karena mereka tidak tahu bagaimana mulai menulis. Mereka duduk di depan mesin ketik atau dengan bolpoin di tangan mereka dan berharap dapat mengisi kertas kosong dengan tulisan; mereka tidak tahu bahwa keterampilan dalam menulis, seperti halnya keterampilan teknis lain, membutuhkan pendekatan yang sistematis.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Tulisan yang sukses bukanlah produk inspirasi, bukan juga bahasa lisan yang dituangkan dalam kertas -- tulisan yang sukses adalah hasil dari memahami bagaimana menyusun ide di atas kertas. Cara terbaik untuk memastikan keberhasilan sebuah proyek tulisan -- apakah itu surat, proposal, atau laporan resmi -- adalah dengan membagi proses penulisan menjadi lima langkah utama: persiapan, penelitian, pengorganisasian, penulisan draf, dan revisi. Pertama, lima langkah tersebut harus secara sadar diri diikuti. Sama halnya, mengoperasikan komputer, mendesain sirkuit, memerbaiki mesin, mewawancarai pelamar kerja, atau memimpin rapat dewan direksi, semua itu membutuhkan tahapan. Dengan praktik, langkah-langkah yang ada dalam setiap proses itu menjadi suatu hal yang otomatis dilakukan. Hal itu bukan berarti menyatakan bahwa menulis itu mudah; menulis tidaklah mudah. Namun, cara termudah untuk menulis -- dan satu-satunya cara untuk memastikan bahwa keterampilan menulis Anda akan mencapai tujuan penulisan -- adalah dengan menulis secara sistematis.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Berikut adalah penjelasan mengenai lima langkah utama dalam proses penulisan.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;b&gt;Langkah Pertama: Persiapan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Menulis, seperti halnya kebanyakan tugas teknis, membutuhkan persiapan yang bagus -- bahkan, persiapan yang cukup sama pentingnya dengan penulisan draf. Persiapan menulis terdiri dari (1) menetapkan tujuan, (2) mengidentifikasi pembaca, dan (3) menentukan batasan tulisan Anda.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Menetapkan tujuan hanyalah sebatas menentukan apa yang Anda ingin agar pembaca Anda tahu atau dapat lakukan setelah mereka selesai membaca laporan atau tulisan Anda. Namun Anda harus saksama; sering kali penulis menyatakan tujuan yang terlalu luas sehingga tidak ada gunanya. Tujuan menulis seperti "Untuk melaporkan tempat-tempat yang berpotensi bagi pembangunan pabrik baru", terlalu umum dan tidak akan ada gunanya. Namun "Menghadirkan kelebihan-kelebihan Chicago, Minneapolis, dan Salt Lake City sebagai lokasi yang berpotensi bagi pembangunan pabrik baru sehingga atasan dapat memilih lokasi yang terbaik" akan memberikan Anda sebuah tujuan yang dapat menuntun Anda dalam seluruh proses penulisan.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Berikutnya adalah mengidentifikasi pembaca -- sekali lagi, hal ini juga harus dilakukan dengan saksama. Apa yang pembaca Anda perlukan berkaitan dengan subjek Anda? Apa yang pembaca sudah ketahui mengenai subjek tulisan Anda? Anda harus tahu, misalnya apakah Anda harus mendefinisikan istilah dasar atau apakah definisi seperti itu akan membosankan, atau bahkan membuat pembaca Anda merasa dihina. Apakah pembaca Anda sebenarnya adalah beberapa orang yang memiliki bidang minat dan tingkat pengetahuan teknis yang berbeda-beda? Karena target pembaca yang dinyatakan pada tujuan di paragraf sebelumnya adalah "atasan". Namun siapa saja yang termasuk dalam kategori tersebut. Apakah salah satu orang yang akan memeriksa laporan itu adalah manajer personalia? Jika ya, maka dia pastinya akan memiliki minat pada beberapa hal, seperti ketersediaan tenaga kerja yang kompeten di setiap kota, adanya kampus-kampus yang akan memberikan pelatihan bagi para karyawan, kondisi perumahan, bahkan mungkin fasilitas rekreasi. Manajer pembelian akan peduli terhadap adanya sumber-sumber material yang dibutuhkan pabrik. Manajer pemasaran akan lebih cenderung memikirkan kedekatan pabrik dengan pasar utamanya dan kondisi transportasi bagi keperluan distribusi pabrik. Wakil kepala bagian keuangan pasti akan ingin tahu mengenai biaya tanah dan bangunan, juga struktur pajak setempat. Presiden perusahaan mungkin akan tertarik dengan semua itu, dan bahkan lebih dari itu; misalnya, ia mungkin ingin tahu mengenai efisiensi perjalanan antara pabrik pusat dan pabrik yang baru.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Selain mengetahui kebutuhan dan bidang minat pembaca, Anda harus mengetahui sebanyak mungkin latar belakang mereka. Misalnya, pernahkah mereka ke tiga kota itu? Pernahkah mereka melihat laporan lain mengenai ketiga kota itu? Apakah pabrik baru ini adalah yang pertama atau pernahkah mereka memilih lokasi untuk pabrik baru sebelumnya? Akhirnya, jika pembaca Anda banyak, maka cara yang terbaik, saat Anda sudah mempelajari sebanyak mungkin apa yang mereka butuhkan dan latar belakang mereka, adalah menggabungkan semua pembaca Anda dalam pikiran Anda menjadi satu gabungan pembaca dan tujukan tulisan Anda kepada mereka. Dengan menulis seolah-olah bagi satu pembaca, Anda tidak akan dianggap menguliahi (seolah-olah Anda berbicara pada satu kelompok, bukan perorangan) dan diintimidasi oleh pembaca Anda.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Menetapkan tujuan dan mengidentifikasi pembaca akan membantu Anda memutuskan apa yang harus dan tidak harus Anda sertakan dalam tulisan Anda. Saat Anda telah membedakan apa yang penting dan tidak penting berdasarkan tujuan dan target pembaca, Anda telah menetapkan batasan proyek penulisan Anda. Jika Anda tidak menetapkan batasan tulisan dengan jelas sebelum memulai penelitian (langkah berikutnya), Anda hanya akan menghabiskan lebih banyak waktu dalam meneliti karena Anda tidak yakin jenis informasi yang Anda butuhkan, atau bahkan berapa banyak informasi yang Anda butuhkan. Misalnya, berdasar atas tujuan dan target pembaca yang telah diutarakan dalam paragraf sebelumnya, maka batasan laporan Anda mengenai lokasi pabrik akan memuat beberapa hal, seperti biaya tanah dan bangunan, tenaga kerja yang tersedia, fasilitas transportasi, kedekatan dengan sumber bahan, dan seterusnya; namun batasan Anda tidak akan memuat informasi sejarah kota yang bersangkutan atau keadaan geografis kota-kota itu (kecuali jika memang itu diperlukan bagi kepentingan bisnis Anda).&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;b&gt;Langkah Kedua: Penelitian&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Tujuan dari sebagian besar tulisan teknis adalah untuk menjelaskan sesuatu -- biasanya sesuatu yang rumit. Tulisan seperti ini tidak dapat dilakukan oleh seseorang yang tidak memahami subjek yang akan ia tulis. Cara satu-satunya untuk memastikan bahwa Anda dapat memahami dengan baik tulisan dengan subjek yang rumit adalah dengan menyusun seperangkat catatan selama penelitian Anda secara utuh dan kemudian membuat kerangka dari catatan tersebut. Ada tiga sumber informasi yang tersedia bagi Anda: perpustakaan, wawancara (kuesioner tertulis), dan wawasan Anda sendiri. Pertimbangkan ketiga sumber itu saat Anda mulai melakukan penelitian dan gunakan yang sekiranya memenuhi kebutuhan Anda. Tentu saja, jumlah penelitian yang harus Anda lakukan tergantung dari proyek Anda; untuk memo sederhana atau surat, "penelitian" Anda mungkin hanyalah mencatat semua gagasan Anda sebelum Anda mulai mengorganisasinya.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;b&gt;Langkah Ketiga: Pengorganisasian&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Tanpa pengorganisasian, bahan-bahan yang dikumpulkan selama proses penelitian tidak akan dapat dipahami oleh pembaca Anda. Untuk melakukan pengorganisasian yang efektif, Anda harus menentukan urutan gagasan yang harus dihadirkan, yaitu Anda harus memilih metode pengembangan.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Metode pengembangan yang tepat adalah alat penulis untuk mengendalikan bahan-bahannya dan alat pembaca untuk mengikuti apa yang disajikan penulis. Subjek Anda mungkin saja dapat menjadi metode pengembangannya. Misalnya, jika Anda menyajikan instruksi menghidupkan mesin, Anda pastinya akan menyajikan langkah-langkah prosesnya secara urut. Metode seperti itu adalah metode pengembangan urutan. Jika Anda menulis tentang sejarah komputer, maka Anda akan menyajikannya dari awal sejarah sampai masa kini. Metode itu adalah metode pengembangan kronologis. Jika subjek Anda bisa menjadi metode pengembangan dalam tulisan Anda, maka gunakanlah -- jangan berusaha menerapkan metode lain pada subjek itu. Banyak metode pengembangan yang tersedia untuk orang teknis, yakni, kronologis, urutan, spasial, urutan tingkat kepentingan, perbandingan, analisa, umum-khusus, khusus-umum, dan sebab-akibat. Sebagai penulis, Anda harus memakai metode pengembangan yang paling cocok dengan subjek, pembaca, dan tujuan Anda. Setelah itu Anda siap untuk membuat kerangka tulisan.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Pembuatan kerangka membuat subjek yang luas atau rumit menjadi lebih mudah ditangani dengan memecah-mecahnya menjadi bagian-bagian yang dapat dikelola, dan hal ini memastikan tulisan Anda akan mengalir secara logis dari satu ide ke ide yang lain tanpa menghapus ide yang penting. Pembuatan kerangka juga memampukan Anda untuk menekankan poin-poin kunci Anda dengan menempatkan mereka pada posisi yang penting. Akhirnya, saat Anda memaksakan diri untuk menyusun pemikiran Anda pada tahap awal, pembuatan kerangka tulisan yang bagus akan membuat Anda untuk secara eksklusif berkonsentrasi menulis saat Anda memulai draf kasar tulisan Anda. Bahkan, jika bentuk tulisannya hanyalah sebuah surat atau memo pendek, tulisan yang berhasil memerlukan logika dan susunan yang disediakan oleh metode pengembangan dan kerangka tulisan, meskipun untuk proyek sederhana seperti itu, biasanya metode pengembangan dan kerangka tulisan tertulis bukan di kertas, namun dalam pikiran Anda.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Jika Anda berniat untuk menyertakan ilustrasi dengan tulisan Anda, saat yang bagus untuk memikirkannya adalah saat Anda telah menyelesaikan kerangka tulisan Anda -- terutama jika ilustrasinya harus dipersiapkan oleh orang lain sementara Anda menulis dan merevisi drafnya. Jika kerangka tulisan yang Anda buat agak rinci, Anda harus dapat menentukan ide-ide yang mana yang memerlukan dukungan gambar agar lebih jelas.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;b&gt;Langkah Keempat: Penulisan Draf&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Saat Anda telah menentukan tujuan, target pembaca, dan batasan tulisan Anda, saat Anda telah melakukan penelitian secukupnya serta telah memilih metode pengembangan dan membuat kerangka tulisan, penulisan draf menjadi relatif mudah. Penulisan draf hanyalah proses penulisan dan perluasan kerangka tulisan menjadi kalimat-kalimat utama dan kemudian menjadi paragraf. Tulis draf dengan cepat, konsentrasikan seluruhnya pada pengubahan kerangka tulisan menjadi kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf. Jangan kuatirkan pengantar yang bagus kecuali jika memang itu mudah untuk dilakukan. Konsentrasi pada ide-idenya. Jangan mencoba untuk merevisi atau memperhalus kalimatnya. Jangan pedulikan aturan tata bahasa atau ejaan karena hal itu bukanlah hal yang penting dalam draf kasar. Di atas semuanya itu, tetap ingat kebutuhan dan wawasan pembaca.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;b&gt;Langkah Kelima: Revisi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Jika Anda telah mengikuti langkah-langkah penulisan sampai pada langkah kelima ini, Anda memegang draf tulisan yang sangat kasar, yang sama sekali tidak dapat dianggap sebagai produk jadi. Revisi adalah langkah terakhir yang harus dilakukan. Kerangka pemikiran yang berbeda diperlukan dalam merevisi; tidak sama saat Anda menulis draf kasar. Baca dan evaluasi draf dari sudut pandang pembaca. Temukan dan betulkan kesalahan, dan jujurlah. Keraslah terhadap diri sendiri demi kepentingan pembaca; jangan memanjakan diri di atas pengorbanan pembaca.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Jangan coba untuk merevisi semuanya sekaligus. Baca draf kasar tulisan Anda beberapa kali, dan cari serta betulkan kesalahan yang ada.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Periksa draf Anda berkaitan dengan keakuratan dan keutuhannya. Draf Anda harus memberikan apa yang dibutuhkan pembaca dengan tepat, namun jangan sampai membebaninya dengan informasi yang tidak perlu dan melenceng dari subjek. Jika Anda belum menulis pengantar, inilah saatnya untuk membuatnya. Pengantar yang Anda tulis harus mampu mengantar pembaca dan memberikan informasi mengenai apa yang Anda sajikan dalam isi draf; periksa draf Anda apakah sudah memenuhi hal tersebut atau belum. Pengantar Anda harus menyiratkan subjek yang Anda angkat dan menangkap perhatian pembaca.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Periksa kesatuan, kekoherenan, dan peralihan draf Anda. Jika ada kesatuan dalam draf Anda, berarti semua kalimat dalam setiap paragraf mendukung ide pokok paragraf (diekspresikan dalam kalimat utama paragraf), dan semua paragraf mendukung topik utama tulisan Anda. Jika draf itu koheren, kalimat-kalimatnya dan juga paragraf-paragrafnya mengalir mulus dari satu kalimat/paragraf ke kalimat/paragraf yang lain; hubungan antar kalimat atau paragraf jelas. Kekoherenan tercapai dengan banyak cara, namun biasanya dengan penggunaan alat-alat peralihan yang saksama dan dengan pemeliharaan kekonsistenan sudut pandang. Periksa juga draf Anda berkaitan dengan ketepatan penekanan dan subordinasi ide. Saat ini juga saat yang baik untuk Anda menyesuaikan pengungkapan ide; jika Anda menemui tempat di mana ada teralu banyak ide di sana, pilah ide-ide tersebut; sebaliknya, jika Anda menemui serangkaian ide sederhana yang diungkapkan dalam serangkaian kalimat pendek, buatlah ide-ide itu dalam beberapa kalimat yang lebih sedikit.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Periksa kejelasan draf Anda. Revisi yang telah Anda lakukan telah memberi sumbangsih besar pada kejelasan draf. Namun, periksa lagi berkaitan dengan istilah-istilah yang perlu dijelaskan bagi pembaca Anda, dan periksa juga apakah ada ambiguitas. Apakah draf Anda bebas dari kesan dibuat-buat? Apakah draf Anda bebas dari jargon yang mungkin tak dipahami pembaca (atau beberapa pembaca) Anda? Apakah ada kata-kata abstrak yang dapat digantikan dengan kata-kata yang konkret? Periksa seluruh draf Anda sehingga pemilihan katanya tepat.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Periksa gaya draf Anda. Saat Anda telah sampai pada tahap ini, pasti gaya tulisan telah jauh lebih baik, namun masih banyak yang dapat Anda lakukan. Periksa keringkasan Anda; bisakah Anda menghapus kata-kata atau frase-frase yang tak berguna -- yang beberapa penulis sebut "deadwood"? Hal seperti itu selalu mungkin untuk dilakukan, dan hal itu akan sangat bermanfaat bagi tulisan Anda (dan pembaca Anda). Buang kata-kata klise dan bahasa basi yang lain. Apakah kalimat-kalimat yang Anda gunakan adalah kalimat aktif? Khususnya dalam tulisan teknis, ada godaan besar untuk menggunakan kalimat pasif saat kalimat aktif dirasa terlalu kuat (dan juga lebih ringkas). Periksa juga struktur pararelnya. Periksa susunan kalimat dan cari cara untuk mendapatkan variasi kalimat yang lebih menarik.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Periksa juga apakah ada kejanggalan dan pemelencengan nada tulisan. Kejanggalan dan pemelencengan nada sulit ditemukan karena keduanya adalah akibat dari banyak hal, sebagian besar adalah akibat dari apa yang telah Anda lakukan dalam merevisi. Namun, cobalah untuk membaca draf Anda dengan keras (lebih baik, ada seseorang yang membacakannya untuk Anda) sambil Anda mendengarkannya seolah-olah Anda adalah pembaca. Anda akan mengetahui kejanggalan karena terdengar dipaksakan atau kikuk -- sesuatu yang tidak akan pernah Anda katakan jika Anda berbicara kepada pembaca Anda karena akan terdengar tidak alami, baik bagi Anda maupun bagi pembaca. Anda akan mengenali pemelencengan nada saat Anda mendengar kata-kata, frase-frase, atau kalimat-kalimat yang tidak cocok dengan hubungan yang ada antara Anda dan pembaca Anda. Misalnya, dalam memo untuk atasan dalam organisasi Anda, Anda akan menghindari frase atau kalimat yang kesannya menggurui. Jika pembaca Anda serius dengan subjek Anda (lebih baik diasumsikan demikian), maka jangan mencoba untuk melucu. Membenarkan nada sering kali adalah masalah mengganti sebuah kata dengan kata yang lain yang memiliki konotasi lebih cocok. Misalnya, perhatikan perbedaan nada antara "Saya bingung dengan kekerasan kepala Anda menolak rencana itu" dan "Saya bingung dengan keteguhan hati Anda menolak rencana itu". Akhirnya, periksa perlahan dan saksama mengenai masalah tata bahasa, tanda baca, dan hal-hal mekanis (ejaan, singkatan, huruf besar, dll.) dan format. (t/Dian)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Diterjemahkan dan disesuaikan dari:&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;table&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td&gt;Judul buku&lt;/td&gt; &lt;td&gt;:&lt;/td&gt; &lt;td&gt; Handbook of Technical Writing				&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Judul bab &lt;/td&gt; &lt;td&gt;:&lt;/td&gt; &lt;td&gt; Five Steps to Successful Writing &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Penulis &lt;/td&gt; &lt;td&gt;:&lt;/td&gt; &lt;td&gt; Charles T. Brusaw, Gerald J. Alred, dan Walter E. Oliu &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Penerbit &lt;/td&gt; &lt;td&gt;:&lt;/td&gt; &lt;td&gt; St. Martin`s Press, New York 1976 &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Halaman &lt;/td&gt; &lt;td&gt;:&lt;/td&gt; &lt;td&gt; XIII -- XIX &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6956038590997371782-2531752031835113353?l=jurnalis-group.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/feeds/2531752031835113353/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/02/5-langkah-seorang-penulis-berhasil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/2531752031835113353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/2531752031835113353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/02/5-langkah-seorang-penulis-berhasil.html' title='5 Langkah Seorang Penulis Berhasil'/><author><name>Team Kita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-ZXNR8Yy9Aks/TzIETtpQRwI/AAAAAAAAAQc/vLYjCSWB2eg/s220/Sunset.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6956038590997371782.post-3862454049146549161</id><published>2009-02-24T14:57:00.001-08:00</published><updated>2009-02-24T14:58:48.542-08:00</updated><title type='text'>Penyutingan Sebuah Naskah</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Menjadi seorang penyunting (editor) ternyata bukanlah tugas yang biasa saja. Jika ingin menyandang jabatan itu, seseorang harus memikirkan bahwa dia memiliki tanggung jawab untuk melengkapi dirinya dalam dunia yang luas, yaitu dunia literatur. Jadi, seorang penyunting tidak hanya bermodal ejaan yang baik dan benar saja, akan tetapi harus memiliki "beban" sebagai seorang penyunting yang baik dan benar pula. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;"Buku Pintar Penyuntingan Naskah" yang ditulis oleh Pamusuk Eneste benar-benar dapat dijadikan salah satu referensi bagi para penyunting, khususnya yang baru saja menggeluti bidang ini. Isinya tidak hanya hal-hal teknis seputar penyuntingan, akan tetapi beberapa bab menjelaskan mengenai tugas-tugas, syarat, dan hal-hal yang harus diperhatikan seorang editor. Bagian-bagian tersebut dapat membangkitkan semangat untuk lebih mengembangkan diri atau untuk menguji apakah saat ini seseorang telah menjadi editor yang baik dan benar. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Berikut ini bebarapa syarat untuk menjadi seorang editor yang dituliskan Pamusuk Eneste dalam "Buku Pintar Penyuntingan Naskah". &lt;/p&gt; &lt;ol type="1"&gt;&lt;li&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;Menguasai ejaan.&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Harus paham benar ejaan bahasa Indonesia yang baku saat ini. Penggunaan huruf kecil dan huruf kapital, pemenggalan kata, dan penggunaan tanda-tanda baca (titik, koma, dan lain-lain) harus dipahami benar. Bagaimana bisa memperbaiki naskah orang lain jika tidak memahami seluk beluk ejaan bahasa Indonesia. &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;Menguasai tatabahasa.&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Seorang editor harus menguasai bahasa Indonesia dalam arti luas, tahu kalimat yang baik dan benar, kalimat yang salah dan tidak benar, kata-kata yang baku, bentuk-bentuk yang salah kaprah, pilihan kata yang pas, dan sebagainya. &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;Bersahabat dengan kamus.&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Seseorang yang malas membuka kamus sebetulnya tidak cocok menjadi penyunting naskah karena ahli bahasa sekalipun tidak mungkin menguasai semua kata ag ada dalam satu bahasa tertentu, apalagi kalau berbicara mengenai bahasa asing. &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt; Memiliki kepekaan bahasa.&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Peyunting naskah harus tahu mana kalimat yang kasar dan kalimat yang halus; harus tahu mana kata yang perlu dihindari dan maa kata yang sebaiknya dipakai, harus tahu kapan kalimat atau kata tertentu digunakan atau dihindari. Untuk itu seorang penyunting naskah peru mengikuti tulisan-tulisan pakar bahasa atau kolom bahasa yang ada di sejumlah media cetak. &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;Memiliki pengetahuan luas.&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Harus banyak membaca buku, majalah, koran, dan menyerap informasi dari media audiovisual agar tidak ketinggalan informasi. &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;Memiliki ketelitian dan kesabaran.&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Dalam keadaan apapun, ketika menjalankan tugasnya seorang editor harus tetap teliti menyunting setiap kalimat, setiap kata, dan setiap istilah yang digunakan penulis naskah. Ia juga harus sabar menghadapi setiap naskah, karena proses penyuntingan itu memakan proses yang berulang-ulang. &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;Memiliki kepekaan terhadap SARA dan Pornografi.&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Penyunting naskah harus tahu kalimat yang layak cetak, kalimat yang perlu diubah konstruksinya, dan kata yang perlu diganti dengan kata lain. Dalam hal ini seorang penyunting harus peka terhadap hal-hal yang berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;Memiliki keluwesan.&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Sikap luwes dan supel harus dimiliki seorang penyunting naskah karena akan sering berhubungan dengan orang lain. Penyunting harus bersedia mendengarkan berbagai pertanyaan, saran, dan keluhan. Dengan kata lain, seorang yang kaku tidaklah cocok menjadi penyunting naskah. &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;Memiliki kemampuan menulis.&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Hal ini perlu dimiliki seorang penyunting naskah karena kalau tidak tahu menulis kalimat yang benar tentu kita pun akan sulit membetulkan atau memperbaiki kalimat orang lain. &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;Menguasai bidang tertentu.&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Ada baiknya jika seorang penyunting naskah menguasai salah satu bidang keilmuan tertentu karena akan sangat membantu dalam tugasnya sehari-hari. &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;Menguasai bahasa asing.&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Dalam tugasnya, seorang penyunting naskah akan berhadapan dengan istilah-istilah yang berasal dari bahasa Inggris. Minimal, seorang penyunting naskah dapat menguasai bahasa Inggris secara pasif. Artinya dapat membaca dan memahami teks bahasa Inggris. &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;Memahami kode etik penyuntingan naskah.&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Berikut beberapa kode etik penyuntingan naskah yang ada dalam buku ini. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;ol type="1"&gt;&lt;li&gt;Editor wajib mencari informasi mengenai penulis naskah. &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Editor bukanlah penulis naskah. &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Wajib menghormati gaya penulis naskah. &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Wajib merahasiakan informasi yang terdapat dalam naskah yang disuntingnya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Wajib mengonsultasikan hal-hal yang mungkin akan diubahnya dalam naskah. &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Tidak boleh menghilangkan naskah yang akan, sedang, atau telah ditulisnya.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p align="justify"&gt;Buku pintar ini juga memberikan tuntunan kepada para penyunting tentang pentingnya setiap proses penyuntingan. Seperti, proses Pra penyuntingan naskah yang meliputi pengecekan kelengkapan naskah, ragam naskah, daftar isi, bagian-bagian bab, ilustrasi/tabel/gambar, catatan kaki, informasi mengenai penulis, dan membaca naskah secara keseluruhan. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Dalam proses penyuntingan itu sendiri, yang perlu diperhatikan dengan cermat dan seksama oleh penyunting adalah masalah ejaan, tatabahasa, kebenaran fakta, legalitas, konsistensi, gaya penulis, konvensi penyuntingan naskah, dan gaya penerbit/gaya selingkung. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Tidak kalah pentingnya juga proses pasca penyuntingan naskah. Dalam proses ini setiap editor harus memeriksan kembali kelengkapan naskah, nama penulis, kesesuai daftar isi dan isi naskah, tabel/ilustrasi/gambar, prakata/kata pengantar, sistematikan tiap bab, catatan kaki, daftar pustaka, daftar kata/istilah, lampiran, indkes, biografi singkat, sinopsis, nomor halaman, sampai siap diserahkan kepada penulis atau penerbit. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Ternyata tidak begitu sederhana juga tugas seorang penyunting naskah itu, bukan? Semua membutuhkan kemauan dan kerja keras untuk dapat menjdi penyunting yang baik dan benar. Semua kerja keras itu bahkan tidak boleh berhenti pada satu puncak, harus terus ditingkatkan hari demi hari.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;Disarikan dari:&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td&gt;Judul buku&lt;/td&gt; &lt;td&gt;: &lt;/td&gt; &lt;td&gt;Buku Pintar Penyuntingan Naskah Edisi Kedua&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Penulis   &lt;/td&gt; &lt;td&gt;: &lt;/td&gt; &lt;td&gt;Pamusuk Eneste                             &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Penerbit  &lt;/td&gt; &lt;td&gt;: &lt;/td&gt; &lt;td&gt;PT Gramedia Pustakan Utama, Jakarta 2005   &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td&gt;Halaman   &lt;/td&gt; &lt;td&gt;: &lt;/td&gt; &lt;td&gt;1 -- 251                                   &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6956038590997371782-3862454049146549161?l=jurnalis-group.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/feeds/3862454049146549161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/02/penyutingan-sebuah-naskah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/3862454049146549161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/3862454049146549161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/02/penyutingan-sebuah-naskah.html' title='Penyutingan Sebuah Naskah'/><author><name>Team Kita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-ZXNR8Yy9Aks/TzIETtpQRwI/AAAAAAAAAQc/vLYjCSWB2eg/s220/Sunset.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6956038590997371782.post-8510501257645299886</id><published>2009-02-24T14:42:00.000-08:00</published><updated>2009-02-24T14:44:29.852-08:00</updated><title type='text'>Penyajian Bahasa Dan Kalimat</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Bahasa ragam jurnalistik adalah ragam bahasa yang dipakai oleh para pengasuh media massa untuk menyajikan berita bagi audiensnya. Bahasa ragam jurnalistik, yang juga disebut sebagai bahasa koran atau bahasa media massa, ditengarai memiliki kalimat dan alinea yang pendek-pendek, bahasanya pun enak di baca. Lebih dari itu etika dasar jurnalistik menuntut agar bahasa di media massa menyiratkan kejujuran, hangat, akurat, sopan, tidak dibenarkan menggunakan kata-kata yang kasar, atau pun yang menyakiti hati orang. Kutipan tidak boleh diubah-ubah sembarangan apalagi tanpa alasan yang mendasar.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Melalui buku "Kalimat Jurnalistik: Panduan Mencermati Penulisan Berita ini" yang ditulis oleh A.M. Dewabrata, diuraikan pedoman-pedoman yang perlu diperhatikan dalam menyusun kalimat jurnalistik.&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt; Gunakan kalimat yang jelas dan jernih.&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dalam kalimat jurnalistik kalimat gunakan kalimat yang jelas dan jernih, tidak ruwet, tidak keruh, kata dan kalimatnya populer. Kalimat yang digunakan haruslah kalimat yagn mengalir dan tidak tersendat.&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Gunakan gaya bahasa sesuai beritanya.&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Untuk "soft news", contohnya feature, sisipkan gaya bahasa yang menarik, sehingga pembaca tidak akan membuang berita Anda. Berita "hard news", gaya bahasa digunakan adalah gaya bahasa yang memberi kesan dan suasana tertentu.&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Gunakan kalimat yang dapat dinalar atau dilogika.&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dalam menulis sebuah berita, seorang wartawan haruslah selalu menganggap pembacanya tidak tahu apa-apa, tidak punya referensi sedikitpun untuk mencerna berita yang disuguhkan. Karena itu, seorang wartawan akan menuangkan informasi selengkapnya dan sebaik mungkin dalam beritanya. Hal itu untuk menghindari mengelabui dan menyesatkan pembaca.&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Perhatikan keakuratan berita.&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sebuah berita haruslah akurat, karena jika tidak, berita tersebut tidak pantas untuk dipercaya. Akurasi meliputi ketepatan mengutip sumber berita maupun data dan fakta. Akurasi adalah suatu refleksi rasa tanggungjawab penulis (wartawan)dan media massa yang bersangkutan. Ketidakakuratan dalam berita bisa menimbulkan kerancuan dan bisa juga merugikan orang lain. Menyebut sumber berita serta pada kesempatan informasi ataupun pernyataan yang diberikan disebut atribusi atau "credit line". Hal itu perlu karena pembaca memperoleh gambaran dari mana informsi didapat dan apa bisa dipercaya atau tidak.&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Pilihlah kata yang tepat. &lt;ol&gt;&lt;li&gt; Perhatikan penggunaan kata tidak.&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Perhatikan penggunaan kata tidak, karena kata ini berfungsi menegasikan (menghambarkan atau mementahkan) makna yang terkandung di belakangnya. Dalam kalimat jurnalistik kata tidak, sebaiknya diletakkan paling dekat dengan kata yang dinegasikan. Meski demikian, perlu kecermatan untuk menempatkan kata tidak dalam sebuah kalimat jurnalistik sehingga kita dapat menampilkan bahasa ragam jurnalistik yang benar, yang mengutamakan kerjernihan pesan.&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Kata berkecenderungan.&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pemilihan kata untuk dipakai dalam penyusunan kalimat berita harus mempertimbangkan kecenderungan konotasinya. Kata melalaikan, mengabaikan, dan melecehkan, sama-sama punya makna tidak mau menuruti atau tidak memerhatikan. Tapi, masing-masing kata itu mengandung konotasi yang berbeda dan pesan yang dibawa juga berbeda muatannya, sehingga kalimat yang terbentuk dengan kata itu juga akan beda tampilan dan nuansanya.&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Kata pungutan (adopsi)&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Mengadopsi kata asing maupun daerah, atau mencipta sebuah kata baru, hendaknya memerhatikan alam pikiran orang Indonesia. Karena itu untuk memadankan perlu dipikirkan bagaimana dan apa yang terbagus agar pesan yang disampaikan lewat berita dapat dipahami.&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Perhatikan juga penghematan kata.&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kata yang bertele-tele dan penuh dengan kata yang berbasa-basi, tidak cocok untuk penulisan berita dan isi media pada umumnya. Karena itu amat penting untuk menulis berita yang pendek, padat, bernas, jelas, dan bersih. Kata-kata yang mubazir harus dibuang, kalimat panjang dan benar-benar boros harus dipendekkan. Tapi hal itu bukan harga mati mengingat keluwesan sebuah media massa. Kadang sebuah kalimat pendek dipanjangkan apabila hal itu akan memperjelas maksud sebuah kalimat. Patokan yang sebenarnya hanyalah soal kejernihan isi berita, agar pesan sampai kepada pembaca dengan sempurna.&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p align="justify"&gt;Hal yang disebutkan di atas perlu diperhatikan oleh orang yang akan terjun di dalam dunia jurnalistik. Karena lewat media massa, secara langsung atau tidak langsung, wartawan adalah pendidik bagi masyarakatnya. Jika pendidiknya pandai dan menggunakan metode yang cerdas, maka ada harapan masyarakat yang mendapat pengetahuan dari media massa menjadi pandai pula.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Disarikan dari:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;   &lt;table border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt; &lt;td&gt;Judul buku&lt;/td&gt; &lt;td&gt;:&lt;/td&gt; &lt;td&gt; Kalimat Jurnalistik: Panduan Mencermati Penulisan Berita&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Penulis   &lt;/td&gt; &lt;td&gt;:&lt;/td&gt; &lt;td&gt; A.M. Dewabrata                                          &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Penerbit  &lt;/td&gt; &lt;td&gt;:&lt;/td&gt; &lt;td&gt; Penerbit Buku Kompas, Jakarta 2004                      &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;Halaman   &lt;/td&gt; &lt;td&gt;:&lt;/td&gt; &lt;td&gt; 1 -- 204                                                &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6956038590997371782-8510501257645299886?l=jurnalis-group.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/feeds/8510501257645299886/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/02/penyajian-bahasa-dan-kalimat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/8510501257645299886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/8510501257645299886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/02/penyajian-bahasa-dan-kalimat.html' title='Penyajian Bahasa Dan Kalimat'/><author><name>Team Kita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-ZXNR8Yy9Aks/TzIETtpQRwI/AAAAAAAAAQc/vLYjCSWB2eg/s220/Sunset.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6956038590997371782.post-7576354525288715785</id><published>2009-02-24T14:36:00.000-08:00</published><updated>2009-02-24T14:41:41.983-08:00</updated><title type='text'>Tanggung Jawab Menjadi Penulis or Pengarang</title><content type='html'>Penulis atau pengarang yang ingin berekspresi melalui tulisannya, tentu tidak begitu saja menulis dengan sekehendak hatinya. Ia memunyai gagasan atau pemikiran yang ingin disampaikan kepada orang lain. Tentu ia juga harus lebih dahulu berpikir apakah orang lain dapat begitu saja memahami apa yang disampaikannya dalam tulisan itu? Sebab apabila cara penyampaiannya salah atau keliru, pembaca tidak akan memahaminya. Bisa jadi salah tafsir. Mungkin saja akan ada pembaca yang protes, bahkan membantah pendapatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik, bantahan, bahkan kecaman pembaca sudah menjadi risiko seorang penulis. Namun sebaiknya, segala sesuatunya telah direnungkan dan diantisipasi sebelum menulis. Kritik yang positif dan memuji akan menyenangkan. Sebaliknya, kritik yang negatif dan bersifat membantah memang dapat membuat penulis putus asa. Semua ini dapat dihindari dengan persiapan sebelumnya. Penulis harus memiliki tanggung jawab terhadap tulisannya. Jika ia bermaksud menyampaikan pendapat, gagasan, pemikiran, dan perasaan, tentunya karena ia yakin bahwa semuanya itu akan bermanfaat bagi orang lain. Tulisan tentang masalah-masalah kesehatan dalam jurnal kedokteran, misalnya, pasti memiliki dasar-dasar yang kuat untuk dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Begitu juga tulisan bertema sosial, agama, teknologi modern, ekonomi, dan sebagainya. Si penulis harus menguasai materi yang disajikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menulis, seorang penulis setidaknya harus menyadari tiga hal yang merupakan kode etiknya, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. unsur informasi,&lt;br /&gt; 2. unsur edukasi/pendidikan, dan&lt;br /&gt; 3. unsur hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiganya terpadu dalam suatu karya tulis yang akan memberi manfaat yang menyenangkan pembaca. Dengan membaca suatu tulisan, apakah itu fiksi, seperti cerita pendek, puisi atau novel, maupun nonfiksi, misalnya tentang sejarah, ilmu kesehatan, flora dan fauna, pembaca memeroleh informasi sekaligus juga dapat mempelajari sesuatu. Tulisan yang enak dibaca, dengan susunan kalimat dan frase yang jelas dan lancar, apalagi bila ada selingan humor segar, dengan gaya tulisan yang menarik, tidak gersang, pasti disukai oleh siapa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, dengan membaca sebuah buku atau artikel, seorang pembaca dapat memahami informasi yang disampaikan. Bacaan itu akan lebih menarik perhatiannya apabila berisi hal-hal yang ingin diketahui dan dipelajarinya. Selain itu, hal-hal yang disampaikan benar-benar memberinya manfaat. Misalnya, seseorang ingin membaca buku tentang bagaimana menanam pepaya. Ia dapat belajar menanam pepaya dan membuktikan sendiri bahwa teknik dan seni menanam pepaya yang dibacanya itu dapat dipraktikkan dan berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak semua buku dapat dipraktikkan seperti itu. Ini hanya gambaran tentang kode etik bagi penulis berkaitan dengan tanggung jawabnya. Penulis yang tidak menyimak rambu-rambu tulisan menjadi kurang hati-hati dan menulis semaunya sendiri, yang penting asal laku. Misalnya, buku-buku porno. Buku-buku tersebut memang laris di pasaran walaupun berselera rendah. Tetapi, pornografi tidak memiliki unsur mendidik, kalaupun mengandung informasi, sifatnya vulgar, tidak bermutu. Tulisan seperti ini dapat merusak moral, terutama di kalangan generasi muda. Di mana tanggung jawab penulis yang katanya ingin berekspresi untuk menyampaikan gagasan kepada orang lain? Tulisan-tulisan demikian tentu saja melanggar kode etik dan dapat dikategorikan sebagai buku-buku terlarang dalam sebuah negara yang telah memiliki undang-undang tentang pornografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran akan tanggung jawabnya itulah yang harus ada dalam jiwa setiap penulis. Keberaniannya untuk menyampaikan pendapat dan kebebasannya untuk berekspresi di arena tulis-menulis akan dihargai oleh masyarakat pembaca apabila ia memang memiliki kemampuan untuk memertanggungjawabkan manfaat maupun kebenarannya. Apalagi jika buku itu mampu menggerakkan hati nurani pembacanya dan kemudian menciptakan opini di kalangan masyarakat. Inilah keberhasilan seorang penulis atau pengarang. Bahkan, buku-buku seperti ini dapat mengubah pandangan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa novel termasyhur telah mengubah opini dunia. Misalnya, buku berjudul "Uncle Tom`s Cabin" karya Harriet Beecher Stowe yang bercerita tentang kejamnya bisnis perbudakan orang-orang kulit hitam yang tidak manusiawi. Bukan hanya Amerika yang terguncang. Seluruh dunia terperangah membaca buku yang dengan berani membuka borok-borok bisnis yang mendatangkan keuntungan besar ini. Satu lagi contoh tentang keberanian pengarang mengungkap fakta buruk yang disembunyikan, yaitu ketika pengarang Perancis, Emile Zola, membela Alfred Dreyfus, seorang anggota militer Perancis yang dijebloskan ke penjara karena fitnah. Penyimakannya atas kasus yang menghebohkan ini membuktikan bahwa Dreyfus tidak bersalah. Karena itu, ia bertekad untuk membuka skandal yang melibatkan orang-orang penting dalam dinas militer Perancis pada awal abad ke-19 itu. Ia menulis surat terbuka kepada Presiden melalui surat kabar L`Aurore di bawah judul "J`Accuse". Novelis besar ini berani menanggung risiko masuk penjara demi kebenaran yang diyakini. Hal ini tidak sia-sia karena Alfred Dreyfus kemudian dibebaskan. Bayangkan betapa hebatnya dia. Sendirian, hanya bersenjatakan pena dan tinta, Emile Zola berhasil mengungkap skandal korupsi di balik peristiwa yang menggegerkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuplikan kisah tentang keberanian Harriet Beecher Stowe dan Emile Zola hanyalah dua di antara beribu-ribu pengarang pemberani yang tersebar di pelbagai negara di seluruh dunia. Di mana-mana, di sepanjang zaman muncul dan akan terus muncul orang-orang yang setia kepada hati nuraninya dan menyampaikan pengalaman, gagasan, dan apa saja yang mereka rasakan melalui tulisan. Demi kebenaran dan keadilan, para pengarang bersedia menghadapi risiko apa pun. Mereka adalah para pahlawan yang tidak berharap hadiah apa-apa kecuali berekspresi kepada pembacanya untuk tujuan yang mulia. Tentu berbeda sekali dengan mereka yang hanya ingin memanfaatkan profesi menulis untuk tujuan yang menyangkut kepentingan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil dan disunting seperlunya dari:&lt;br /&gt;Judul buku  :  Teknik Menulis Cerita Anak&lt;br /&gt;Judul bab  :  Menulis&lt;br /&gt;Judul asli artikel  :  Kode Etik/Tanggung Jawab&lt;br /&gt;Penulis  :  Titik WS&lt;br /&gt;Penerbit  :  Pink Books, PUSBUK, dan Taman Melati, Yogyakarta 2003&lt;br /&gt;Halaman  :  8 -- 14&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6956038590997371782-7576354525288715785?l=jurnalis-group.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/feeds/7576354525288715785/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/02/tanggung-jawab-menjadi-penulis-or.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/7576354525288715785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/7576354525288715785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/02/tanggung-jawab-menjadi-penulis-or.html' title='Tanggung Jawab Menjadi Penulis or Pengarang'/><author><name>Team Kita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-ZXNR8Yy9Aks/TzIETtpQRwI/AAAAAAAAAQc/vLYjCSWB2eg/s220/Sunset.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6956038590997371782.post-4429396812705913191</id><published>2009-02-24T14:31:00.000-08:00</published><updated>2009-02-24T14:32:55.592-08:00</updated><title type='text'>Pengetahuan Dasar Tentang Jurnalis</title><content type='html'>Pesatnya kemajuan media informasi dewasa ini cukup memberikan kemajuan yang signifikan. Media cetak maupun elektronik pun saling bersaing kecepatan sehingga tidak ayal bila si pemburu berita dituntut kreativitasnya dalam penyampaian informasi. Penguasaan dasar-dasar pengetahuan jurnalistik merupakan modal yang amat penting manakala kita terjun di dunia ini. Keberadaan media tidak lagi sebatas penyampai informasi yang aktual kepada masyarakat, tapi media juga mempunyai tanggung jawab yang berat dalam menampilkan fakta-fakta untuk selalu bertindak objektif dalam setiap pemberitaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa Itu Jurnalistik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kris Budiman, jurnalistik (journalistiek, Belanda) bisa dibatasi secara singkat sebagai kegiatan penyiapan, penulisan, penyuntingan, dan penyampaian berita kepada khalayak melalui saluran media tertentu. Jurnalistik mencakup kegiatan dari peliputan sampai kepada penyebarannya kepada masyarakat. Sebelumnya, jurnalistik dalam pengertian sempit disebut juga dengan publikasi secara cetak. Dewasa ini pengertian tersebut tidak hanya sebatas melalui media cetak seperti surat kabar, majalah, dsb., namun meluas menjadi media elektronik seperti radio atau televisi. Berdasarkan media yang digunakan meliputi jurnalistik cetak (print journalism), elektronik (electronic journalism). Akhir-akhir ini juga telah berkembang jurnalistik secara tersambung (online journalism).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalistik atau jurnalisme, menurut Luwi Ishwara (2005), mempunyai ciri-ciri yang penting untuk kita perhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Skeptis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skeptis adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah tertipu. Inti dari skeptis adalah keraguan. Media janganlah puas dengan permukaan sebuah peristiwa serta enggan untuk mengingatkan kekurangan yang ada di dalam masyarakat. Wartawan haruslah terjun ke lapangan, berjuang, serta menggali hal-hal yang eksklusif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Bertindak (action)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan tidak menunggu sampai peristiwa itu muncul, tetapi ia akan mencari dan mengamati dengan ketajaman naluri seorang wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Berubah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan merupakan hukum utama jurnalisme. Media bukan lagi sebagai penyalur informasi, tapi fasilitator, penyaring dan pemberi makna dari sebuah informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Seni dan Profesi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan melihat dengan mata yang segar pada setiap peristiwa untuk menangkap aspek-aspek yang unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Peran Pers&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pers sebagai pelapor, bertindak sebagai mata dan telinga publik, melaporkan peristiwa-peristiwa di luar pengetahuan masyarakat dengan netral dan tanpa prasangka. Selain itu, pers juga harus berperan sebagai interpreter, wakil publik, peran jaga, dan pembuat kebijaksanaan serta advokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membahas mengenai jurnalistik, pikiran kita tentu akan langsung tertuju pada kata "berita" atau "news". Lalu apa itu berita? Berita (news) berdasarkan batasan dari Kris Budiman adalah laporan mengenai suatu peristiwa atau kejadian yang terbaru (aktual); laporan mengenai fakta-fakta yang aktual, menarik perhatian, dinilai penting, atau luar biasa. "News" sendiri mengandung pengertian yang penting, yaitu dari kata "new" yang artinya adalah "baru". Jadi, berita harus mempunyai nilai kebaruan atau selalu mengedepankan aktualitas. Dari kata "news" sendiri, kita bisa menjabarkannya dengan "north", "east", "west", dan "south". Bahwa si pencari berita dalam mendapatkan informasi harus dari keempat sumber arah mata angin tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya berdasarkan jenisnya, Kris Budiman membedakannya menjadi "straight news" yang berisi laporan peristiwa politik, ekonomi, masalah sosial, dan kriminalitas, sering disebut sebagai berita keras (hard news). Sementara "straight news" tentang hal-hal semisal olahraga, kesenian, hiburan, hobi, elektronika, dsb., dikategorikan sebagai berita ringan atau lunak (soft news). Di samping itu, dikenal juga jenis berita yang dinamakan "feature" atau berita kisah. Jenis ini lebih bersifat naratif, berkisah mengenai aspek-aspek insani (human interest). Sebuah "feature" tidak terlalu terikat pada nilai-nilai berita dan faktualitas. Ada lagi yang dinamakan berita investigatif (investigative news), berupa hasil penyelidikan seorang atau satu tim wartawan secara lengkap dan mendalam dalam pelaporannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai Berita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah berita jika disajikan haruslah memuat nilai berita di dalamnya. Nilai berita itu mencakup beberapa hal, seperti berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Objektif: berdasarkan fakta, tidak memihak.&lt;br /&gt;  2. Aktual: terbaru, belum "basi".&lt;br /&gt;  3. Luar biasa: besar, aneh, janggal, tidak umum.&lt;br /&gt;  4. Penting: pengaruh atau dampaknya bagi orang banyak; menyangkut orang penting/terkenal.&lt;br /&gt;  5. Jarak: familiaritas, kedekatan (geografis, kultural, psikologis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima nilai berita di atas menurut Kris Budiman sudah dianggap cukup dalam menyusun berita. Namun, Masri Sareb Putra dalam bukunya "Teknik Menulis Berita dan Feature", malah memberikan dua belas nilai berita dalam menulis berita (2006: 33). Dua belas hal tersebut di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. sesuatu yang unik,&lt;br /&gt;  2. sesuatu yang luar biasa,&lt;br /&gt;  3. sesuatu yang langka,&lt;br /&gt;  4. sesuatu yang dialami/dilakukan/menimpa orang (tokoh) penting,&lt;br /&gt;  5. menyangkut keinginan publik,&lt;br /&gt;  6. yang tersembunyi,&lt;br /&gt;  7. sesuatu yang sulit untuk dimasuki,&lt;br /&gt;  8. sesuatu yang belum banyak/umum diketahui,&lt;br /&gt;  9. pemikiran dari tokoh penting,&lt;br /&gt; 10. komentar/ucapan dari tokoh penting,&lt;br /&gt; 11. kelakuan/kehidupan tokoh penting, dan&lt;br /&gt; 12. hal lain yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenyataannya, tidak semua nilai itu akan kita pakai dalam sebuah penulisan berita. Hal terpenting adalah adanya aktualitas dan pengedepanan objektivitas yang terlihat dalam isi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anatomi Berita dan Unsur-Unsur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tubuh kita, berita juga mempunyai bagian-bagian, di antaranya adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Judul atau kepala berita (headline).&lt;br /&gt;  2. Baris tanggal (dateline).&lt;br /&gt;  3. Teras berita (lead atau intro).&lt;br /&gt;  4. Tubuh berita (body).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian-bagian di atas tersusun secara terpadu dalam sebuah berita. Susunan yang paling sering didengar ialah susunan piramida terbalik. Metode ini lebih menonjolkan inti berita saja. Atau dengan kata lain, lebih menekankan hal-hal yang umum dahulu baru ke hal yang khusus. Tujuannya adalah untuk memudahkan atau mempercepat pembaca dalam mengetahui apa yang diberitakan; juga untuk memudahkan para redaktur memotong bagian tidak/kurang penting yang terletak di bagian paling bawah dari tubuh berita (Budiman 2005) . Dengan selalu mengedepankan unsur-unsur yang berupa fakta di tiap bagiannya, terutama pada tubuh berita. Dengan senantiasa meminimalkan aspek nonfaktual yang pada kecenderuangan akan menjadi sebuah opini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, sebuah berita harus memuat "fakta" yang di dalamnya terkandung unsur-unsur 5W + 1H. Hal ini senada dengan apa yang dimaksudkan oleh Lasswell, salah seorang pakar komunikasi (Masri Sareb 2006: 38).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Who - siapa yang terlibat di dalamnya?&lt;br /&gt;  2. What - apa yang terjadi di dalam suatu peristiwa?&lt;br /&gt;  3. Where - di mana terjadinya peristiwa itu?&lt;br /&gt;  4. Why - mengapa peristiwa itu terjadi?&lt;br /&gt;  5. When - kapan terjadinya?&lt;br /&gt;  6. How - bagaimana terjadinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya sebatas berita, bentuk jurnalistik lain, khususnya dalam media cetak, adalah berupa opini. Bentuk opini ini dapat berupa tajuk rencana (editorial), artikel opini atau kolom (column), pojok dan surat pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Berita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal penting lain yang dibutuhkan dalam sebuah proses jurnalistik adalah pada sumber berita. Ada beberapa petunjuk yang dapat membantu pengumpulan informasi, sebagaimana diungkapkan oleh Eugene J. Webb dan Jerry R. Salancik (Luwi Iswara 2005: 67) berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Observasi langsung dan tidak langsung dari situasi berita.&lt;br /&gt;  2. Proses wawancara.&lt;br /&gt;  3. Pencarian atau penelitian bahan-bahan melalui dokumen publik.&lt;br /&gt;  4. Partisipasi dalam peristiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya tulisan singkat tentang dasar-dasar jurnalistik di atas akan lebih membantu kita saat mengerjakan proses kreatif kita dalam penulisan jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber bacaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budiman, Kris. 2005. "Dasar-Dasar Jurnalistik: Makalah yang disampaikan dalam Pelatihan Jurnalistik -- Info Jawa 12-15 Desember 2005. Dalam www.infojawa.org.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ishwara, Luwi. 2005. "Catatan-Catatan Jurnalisme Dasar". Jakarta: Penerbit Buku Kompas. &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6956038590997371782-4429396812705913191?l=jurnalis-group.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/feeds/4429396812705913191/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/02/pengetahuan-dasar-tentang-jurnalis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/4429396812705913191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/4429396812705913191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/02/pengetahuan-dasar-tentang-jurnalis.html' title='Pengetahuan Dasar Tentang Jurnalis'/><author><name>Team Kita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-ZXNR8Yy9Aks/TzIETtpQRwI/AAAAAAAAAQc/vLYjCSWB2eg/s220/Sunset.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6956038590997371782.post-5016841092755353543</id><published>2009-02-24T14:23:00.000-08:00</published><updated>2009-02-24T14:25:59.813-08:00</updated><title type='text'>Saran Menjadi Penyusun or Presenter Radio</title><content type='html'>Anda ingin menjadi presenter radio? Pada era keterbukaan sekarang peluang berkarir di radio sangatlah terbuka. Anda bisa memulai di radio lokal yang bila dikembangkan terus skill-nya akan berakhir di Washington atau London. Radio sampai sekarang merupakan medium jurnalistik sangat penting dan belum tergantikan televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presenter radio diperlukan mengikuti era multimedia sekarang ini. Oleh sebab itu, ada beberapa tips yang bisa bermanfaat untuk menjadi presenter radio khususnya presenter bidang news dan current affairs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Wawasan mengenai peristiwa lokal, nasional dan internasional. Seorang presenter apalagi menyampaikan berita setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Suara yang standar. Setiap orang memiliki warna suara. Temukan suara Anda dengan berlatih. Suara adalah perangkat penting dalam radio. Oleh karena itu menyadari pentingnya pita suara dalam diri seorang presenter merupakan hal esensial. Apakah warna suara ana bas, bariton atau melengking, semuanya masih memungkinkan tergantung dari radio yang akan dimasuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Otoritatif namun rileks. Radio adalah medium yang intim. Suara Anda perlu otoritatif namun terdengar akrab. Nada otoritatif itu bisa digambarkan sebagai suara yang akrab di telinga namun mengandung suasana yang lugas dan langsung. Dia tidak basa basi dan berpanjang-pangjang namun terdengar alamiah dan mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Semangat dalam menyampaikan informasi. Sikap antusias dalam menyampaikan informasi merupakan bekal sangat penting. Prinsipnya, jika Anda antusias karena kabar yang disampaikan sesuatu yang baru dan perlu diketahui pendengar maka sikap yang keluar dari suara Anda juga seolah-olah mengajak pendengar untuk mengikutinya. Sebaliknya jika Anda tidak ansusias suda dapat diguga pendengar pun malas mengikutiny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jadikan siaran Anda “your show”. Anggap ini adalah panggung Anda. Presentasi merupakan sebuah pertunjukkan. Anda harus menganggap sebagai sopir dan pengendali yang menguasai “panggung” siaran. Setiap nada, intonasi dan suara yang keluar dari diri Anda menjunjukkan bagaimana jalannya siaran itu seharusnya. Seperti halnya teater maka dalam penyampaian pun ada pembukaan, isi dan penudup. Ada nada suara tinggi, rendah dan menekankan. Semuanya disampaikan bukan dengan sikap membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu juga saya tambahkan tips presenters ini dari situs BBC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presenter sebenarnya “penghubung” satu bagian dengan bagian lain dari siaran. Oleh sebab it kadang-kadang presenter merekam atau menyampaikan secara langsung “links” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips dari BBC&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tenang. Suara bicara yang alamiah kadang-kadang terlalu cepat untuk pendengar oleh karena itu tenanglah suaranya dan perlahan-lahan menyampaikan informasi yang Anda sampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Buatlah setiap kata-kata itu berarti. Baca naskah dengan rasa percaya diri dan katakan setiap kata dengan tepat. Jangan mengakhiri kalimat tidak lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bersikaplah seolah-olah Anda bicara kepada orang tertentu. Bayangkan Anda meneceritakan sesuatu kepada satu orang di dalam pikiran Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hindari rasa canggung dan gelisah. Nanti kedengarannya aneh di telinga pendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tersenyumlah. Mungkin ini terdengar baik, seperti Anda lihat sendiri kadang-kadang sikap tersenyum membuat suara lebih bersahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Ingat suara Anda bagus seperti orang lain. Setiap orang bisa bicara lamban atau menyajikan dengan jelas tidak jadi soal apakah aksen anda tinggi atau rendah. (www.journalist-adventure.com).*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6956038590997371782-5016841092755353543?l=jurnalis-group.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/feeds/5016841092755353543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/02/saran-menjadi-penyusun-or-presenter.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/5016841092755353543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/5016841092755353543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/02/saran-menjadi-penyusun-or-presenter.html' title='Saran Menjadi Penyusun or Presenter Radio'/><author><name>Team Kita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-ZXNR8Yy9Aks/TzIETtpQRwI/AAAAAAAAAQc/vLYjCSWB2eg/s220/Sunset.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6956038590997371782.post-1278341290688738576</id><published>2009-02-24T14:06:00.000-08:00</published><updated>2009-02-24T14:15:00.296-08:00</updated><title type='text'>Pengertian Jurnalistik</title><content type='html'>Pengertian istilah jurnalistik dapat ditinjau dari tiga sudut pandang: harfiyah, konseptual, dan praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara harfiyah, jurnalistik (journalistic) artinya kewartawanan atau kepenulisan. Kata dasarnya “jurnal” (journal), artinya&gt;&gt;… laporan atau catatan, atau “jour” dalam bahasa Prancis yang berarti “hari” (day). Asal-muasalnya dari bahasa Yunani kuno, “du jour” yang berarti hari, yakni kejadian hari ini yang diberitakan dalam lembaran tercetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara konseptual, jurnalistik dapat dipahami dari tiga sudut pandang: sebagai proses, teknik, dan ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sebagai proses, jurnalistik adalah “aktivitas” mencari, mengolah, menulis, dan menyebarluaskan informasi kepada publik melalui media massa. Aktivitas ini dilakukan oleh wartawan (jurnalis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sebagai teknik, jurnalistik adalah “keahlian” (expertise) atau “keterampilan” (skill) menulis karya jurnalistik (berita, artikel, feature) termasuk keahlian dalam pengumpulan bahan penulisan seperti peliputan peristiwa (reportase) dan wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sebagai ilmu, jurnalistik adalah “bidang kajian” mengenai pembuatan dan penyebarluasan informasi (peristiwa, opini, pemikiran, ide) melalui media massa. Jurnalistik termasuk ilmu terapan (applied science) yang dinamis dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan dinamika masyarakat itu sendiri. Sebaga ilmu, jurnalistik termasuk dalam bidang kajian ilmu komunikasi, yakni ilmu yang mengkaji proses penyampaian pesan, gagasan, pemikiran, atau informasi kepada orang lain dengan maksud memberitahu, mempengaruhi, atau memberikan kejelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara praktis, jurnalistik adalah proses pembuatan informasi atau berita (news processing) dan penyebarluasannya melalui media massa. Dari pengertian kedua ini, kita dapat melihat adanya empat komponen dalam dunia jurnalistik: informasi, penyusunan informasi, penyebarluasan informasi, dan media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi : News &amp;amp; Views&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi adalah pesan, ide, laporan, keterangan, atau pemikiran. Dalam dunia jurnalistik, informasi dimaksud adalah news (berita) dan views (opini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita adalah laporan peristiwa yang bernilai jurnalistik atau memiliki nilai berita (news values) –aktual, faktual, penting, dan menarik. Berita disebut juga “informasi terbaru”. Jenis-jenis berita a.l. berita langsung (straight news), berita opini (opinion news), berita investigasi (investigative news), dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Views adalah pandangan atau pendapat mengenai suatu masalah atau peristiwa. Jenis informasi ini a.l. kolom, tajukrencana, artikel, surat pembaca, karikatur, pojok, dan esai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga tulisan yang tidak termasuk berita juga tidak bisa disebut opini, yakni feature, yang merupakan perpaduan antara news dan views. Jenis feature yang paling populer adalah feature tips (how to do it feature), feature biografi, feature catatan perjalanan/petualangan, dan feature human interest.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusunan Informasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi yang disajikan sebuah media massa tentu harus dibuat atau disusun dulu. Yang bertugas menyusun informasi adalah bagian redaksi (Editorial Department), yakni para wartawan, mulai dari Pemimpin Redaksi, Redaktur Pelaksana, Redaktur Desk, Reporter, Fotografer, Koresponden, hingga Kontributor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemred hingga Koresponden disebut wartawan. Menurut UU No. 40/1999, wartawan adalah “orang yang melakukan aktivitas jurnalistik secara rutin”. Untuk menjadi wartawan, seseorang harus memenuhi kualifikasi berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menguasai teknik jurnalistik, yaitu skill meliput dan menulis berita, feature, dan tulisan opini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menguasai bidang liputan (beat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menguasai dan menaati Kode Etik Jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknis pembuatannya terangkum dalam konsep proses pembuatan berita (news processing), meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. News Planning = perencanaan berita. Dalam tahap ini redaksi melakukan Rapat Proyeksi, yakni perencanaan tentang informasi yang akan disajikan. Acuannya adalah visi, misi, rubrikasi, nilai berita, dan kode etik jurnalistik. Dalam rapat inilah ditentukan jenis dan tema-tema tulisan/berita yang akan dibuat dan dimuat, lalu dilakukan pembagian tugas di antara para wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. News Hunting = pengumpulan bahan berita. Setelah rapat proyeksi dan pembagian tugas, para wartawan melakukan pengumpulan bahan berita, berupa fakta dan data, melalui peliputan, penelusuran referensi atau pengumpulan data melalui literatur, dan wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. News Writing = penulisan naskah. Setelah data terkumpul, dilakukan penulisan naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. News Editing = penyuntingan naskah. Naskah yang sudah ditulis harus disunting dari segi redaksional (bahasa) dan isi (substansi). Dalam tahap ini dilakukan perbaikan kalimat, kata, sistematika penulisan, dan substansi naskah, termasuk pembuatan judul yang menarik dan layak jual serta penyesuaian naskah dengan space atau kolom yang tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah keempat proses tadi dilalui, sampailah pada proses berikutnya, yakni proses pracetak berupa Desain Grafis, berupa lay out (tata letak), artistik, pemberian ilustrasi atau foto, desain cover, dll. Setelah itu langsung ke percetakan (printing process).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebarluasan Informasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni penyebarluasan informasi yang sudah dikemas dalam bentuk media massa (cetak). Ini tugas bagian marketing atau bagian usaha (Business Department) –sirkulasi/distribusi, promosi, dan iklan. Bagian ini harus menjual media tersebut dan mendapatkan iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media Massa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media Massa (Mass Media) adalah sarana komunikasi massa (channel of mass communication). Komunikasi massa sendiri artinya proses penyampaian pesan, gagasan, atau informasi kepada orang banyak (publik) secara serentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri (karakteristik) medi massa adalah disebarluaskan kepada khalayak luas (publisitas), pesan atau isinya bersifat umum (universalitas), tetap atau berkala (periodisitas), berkesinambungan (kontinuitas), dan berisi hal-hal baru (aktualitas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis-jenis media massa adalah Media Massa Cetak (Printed Media), Media Massa Elektronik (Electronic Media), dan Media Online (Cybermedia). Yang termasuk media elektronik adalah radio, televisi, dan film. Sedangkan media cetak –berdasarkan formatnya— terdiri dari koran atau suratkabar, tabloid, newsletter, majalah, buletin, dan buku. Media Online adalah website internet yang berisikan informasi- aktual layaknya media massa cetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produk Utama Jurnalistik: Berita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas atau proses jurnalistik utamanya menghasilkan berita, selain jenis tulisan lain seperti artikel dan feature.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita adalah laporan peristiwa yang baru terjadi atau kejadian aktual yang dilaporkan di media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap-tahap pembuatannya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengumpulkan fakta dan data peristiwa yang bernilai berita –aktual, faktual, penting, dan menarik—dengan “mengisi” enam unsur berita 5W+1H (What/Apa yang terjadi, Who/Siapa yang terlibat dalam kejadian itu, Where/Di mana kejadiannya, When/Kapan terjadinya, Why/Kenapa hal itu terjadi, dan How/Bagaimana proses kejadiannya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Fakta dan data yang sudah dihimpun dituliskan berdasarkan rumus 5W+1H dengan menggunakan Bahasa Jurnalistik –spesifik= kalimatnya pendek-pendek, baku, dan sederhana; dan komunikatif = jelas, langsung ke pokok masalah (straight to the point), mudah dipahami orang awam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Komposisi naskah berita terdiri atas: Head (Judul), Date Line (Baris Tanggal), yaitu nama tempat berangsungnya peristiwa atau tempat berita dibuat, plus nama media Anda, Lead (Teras) atau paragraf pertama yang berisi bagian paling penting atau hal yang paling menarik, dan Body (Isi) berupa uraian penjelasan dari yang sudah tertuang di Lead.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6956038590997371782-1278341290688738576?l=jurnalis-group.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/feeds/1278341290688738576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/02/pengertian-jurnalistik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/1278341290688738576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/1278341290688738576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/02/pengertian-jurnalistik.html' title='Pengertian Jurnalistik'/><author><name>Team Kita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-ZXNR8Yy9Aks/TzIETtpQRwI/AAAAAAAAAQc/vLYjCSWB2eg/s220/Sunset.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6956038590997371782.post-4450523523569191548</id><published>2009-02-24T13:54:00.000-08:00</published><updated>2009-02-24T14:05:43.048-08:00</updated><title type='text'>Ekstrakulikuler Jurnalistik Berguna</title><content type='html'>Membuat majalah sekolah? ”Ah susah!” Begitu pernyataan yang sering diutarakan siswa ketika ditanya masalah pembuatan majalah sekolah. Sebenarnya ada cara yang relatif mudah untuk membuat majalah sekolah. Bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAWABAN ”Ah susah!” dari para siswa itu tidak bisa disalahkan. Gurunya pun belum tentu bisa membuat majalah sekolah. Ini dapat dipahami, karena tidak ada mata pelajaran secara khusus mengenai pembuatan majalah sekolah.&lt;br /&gt;Hal ini kontras dengan sekolah di Amerika Serikat, yang mana penulis pernah mengunjunginya beberapa waktu yang lalu. Semuanya mempunyai majalah sekolah yang dibuat sendiri. Di sana juga ada mata pelajaran jurnalistik, bahkan ada kelas khusus jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya tulis-menulis yang diajarkan, tetapi juga pembuatan buletin atau majalah. Hal ini tentu didukung dengan sarana-prasarana untuk menunjang mata pelajaran jurnalistik di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Last but not least! Tiada kata terlambat untuk kemajuan pendidikan di Indonesia, termasuk dalam pembuatan majalah sekolah. Dalam 10 tahun terakhir ini, banyak sekolah yang menyadari arti penting majalah sekolah. Bahkan untuk meningkatkan kualitas majalah sekolah, dibukalah ekstrakulikuler (ekskul) jurnalistik di sekolah, juga digelar berbagai pelatihan jurnalistik dengan menggandeng praktisi pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak berupa mata pelajaran jurnalistik secara khusus, setidaknya dengan ekskul jurnalistik ini bisa mengejar ketertinggalannya dari negara maju. Banyak sekali manfaat ekskul jurnalistik. Hery Nugroho (2006) mengatakan ada empat hal, yakni a) sebagai media penyaluran bakat siswa dalam bidang penulisan, b) penyaluran minat dalam bidang yang sama, b) membantu anak memahami dan mempraktikkan teori-teori dalam pelajaran bahasa, dan d) melatih anak tampil lebih berani dan kritis terhadap berbagai kondisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya ekskul jurnalistik, diharapankan dapat menelurkan produknya: majalah sekolah. Karenanya, sekolah yang mempunyai ekskul jurnalistik akan lebih mudah membuat majalah sekolah daripada sekolah yang tidak mempunyai ekskul tersebut. Secara teori, sekolah yang mempunyai ekskul jurnalistik sudah siap dengan infrastruktur dalam pembuatan majalah sekolah.&lt;br /&gt;Sebenarnya sekolah yang tidak mempunyai ekskul jurnalistik tidak berarti harus menutup pintu untuk memiliki majalah sekolah. Sebab secara substansi juga diajarkan dalam setiap mata pelajaran, baik bahasa Indonesia, bahasa Jawa, maupun bahasa Inggris. Yang terpenting, adakah kemauan sekolah untuk membuatnya. Tentunya kemauan ini tidak hanya dari guru bahasa Indonesia saja, tetapi harus didukung berbagai komponen sekolah, mulai dari kepala sekolah, seluruh guru, karyawan, komite sekolah, orang tua siswa, dan siswa itu sendiri.&lt;br /&gt;Merasakan Manfaat&lt;br /&gt;Dukungan ini dapat dengan cepat diperoleh kalau masing-masing pihak mengetahui dan merasakan manfaat adanya majalah sekolah. Menurut Mulyoto (2007), ada tujuh manfaat adanya majalah sekolah. Pertama, sebagai media penyalur potensi menulis. Siswa dapat menyalurkan bakat serta minat menulis. Banyak sekali penulis terkenal memulai belajar menulis sejak bangku sekolah. Pendek kata, majalah sekolah dapat berfungsi sebagai kawah ”candradimuka” bagi calon-calon penulis masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, penyalur aspirasi. Seringkali banyak siswa ketika mempunyai masalah hanya diungkapkan dengan coretan di atas meja, atau di dinding sekolah. Pengungkapan perasaan seperti ini jelas merugikan sekolah, karena akan terkesan kumuh dan kotor. Daripada seperti itu, lebih baik siswa mengungkapkan perasaannya dengan tulisan, baik berupa gambar, cerpen, artikel, atau puisi yang nantinya akan dimuat di majalah sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, media komunikasi. Tulisan yang dimuat —baik dari siswa, guru atau karyawan— akan dibaca seluruh keluarga besar sekolah. Hal ini secara tidak langsung akan terjadi komunikasi antarpembaca. Keempat, media pembelajaran berbasis baca-tulis. Belajar tidak cukup dengan hanya mendengarkan penjelasan guru, mencatat, dan menghafalkan. Tetapi juga mau membaca masalah-masalah di sekitarnya dan menuangkan dalam bentuk tulisan. Keberadaan majalah sekolah memberi ruang kepada siswa untuk mempublikasikan idenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, media belajar organisasi. Dalam pembuatan majalah sekolah diperlukan pengelola majalah, mulai dari pemimpin redaksi, sekretaris, bendahara, redaktur, wartawan, fotografer, dan lain-lain. Secara langsung, siswa belajar bagaimana membagi pekerjaan untuk membuat majalah sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, penyemai demokrasi. Dengan adanya majalah sekolah, siswa bisa menuliskan uneg-unegnya dalam bentuk tulisan. Uneg-uneg bisa berbentuk masukan untuk perbaikan sekolah. Sehingga siswa dapat merasakan pengalaman nyata tentang bagaimana menyampaikan pikiran dalam sistem yang demokratis, dengan cara yang bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, media promosi. Tulisan yang ada dalam majalah sekolah sekaligus dapat diketahui  orang lain. Selagi majalah itu masih ada, sampai kapan pun orang lain akan dapat membacanya. Dengan kata lain, penerbitan majalah sekaligus bisa menjadi media promosi sekolah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ketujuh manfaat itu sangat bermanfaat. Atau dalam bahasa penulis (Hery Nugroho, 2008), kemanfaatanya sama seperti pohon kelapa. Mulai dari akar sampai batangnya bermannfaat. Setelah mengetahui manfaat dan bersepakat untuk membuat majalah sekolah, langkah berikutnya adalah action (pembuatan majalah sekolah).&lt;br /&gt;Cara Praktis&lt;br /&gt;Menurut pengalaman penulis selaku pembimbing, pembuatan majalah sekolah dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut. Yang pertama, masa persiapan. Pengelola majalah menyiapkan penerbitan majalah sekolah, yakni membuat proposal. Proposal hendaknya dibuat dan dibahas oleh seluruh pengelola. Mulai dari soal nama majalah, visi-misi, rencana rubrikasi, jumlah halaman, hingga rencana pemasukan dan pengeluaran dalam pembuatannya.&lt;br /&gt;Kedua, masa penulisan dan pengeditan. Penulisan naskah bisa berasal dari siswa, guru, dan karyawan. Untuk memfokuskan isi, sebaiknya dilakukan rapat redaksi terlebih dulu. Jangan lupa, dalam redaksi itu harus ada kesepakatan bersama kapan batas akhir (dead line) pengumpulan naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua tulisan masuk ke meja redaksi, langkah berikutnya adalah menyeleksi naskah layak muat dan mengeditnya. Editing dilakukan oleh editor, dan tugas itu bisa dilakukan oleh guru bahasa, khususnya bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;Ketiga, lay out. Pada masa ini, naskah yang telah dimuat ditata (lay out). Kalau pengelola majalah bisa me-lay out sendiri, itu lebih baik. Kalau tidak, minta bantuan orang lain yang ahli. Meski yang me-layout orang lain, alangkah baiknya ada salah seorang redaksi yang ikut mendampingi, untuk memudahkan lay outer manata sesuai dengan keinginan redaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil lay out bisa diprint, untuk diedit ulang. Mungkin ada yang masih salah, kurang foto, atau yang lain. Langkah ini bertujuan untuk meminimalisasi kesalahan isi majalah.   Keempat, pracetak. Pada masa ini, pembuatan majalah 75 persen hampir jadi. Ibarat foto, tinggal membuat filmnya. Dalam tahap ini, pengelola dihadapkan pilihan apakah menggunakan film atau kalkir. Film pun ada dua pilihan: separasi atau hitam putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan ini tergantung dari kemampuan pengelola majalah sekolah. Kalau ingin bagus, bisa berbentuk film yang separasi. Tetapi kalau dananya minim, bisa menggunakan kalkir.  Dalam pengamatan penulis, banyak pengelola majalah sekolah menggunakan film separasi untuk cover, sedangkan halaman isi menggunakan kalkir. Hal ini ditempuh dengan pertimbangan penghematan pengeluaran dana dan kualitasnya tidak begitu jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, pencetakan. Ini adalah tahapan terakhir, dan sangat menentukan kualitas cetak majalah. Karenanya, redaksi harus hati-hati memilih percetakan yang betul-betul berpengalaman. Selain itu, perlu diperjelas waktu selesai pencetakan. Jangan sampai waktunya meleset dari keinginan pengelola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kelima hal itu dilakukan, bukan berarti pekerjaan pengelola majalah selesai. Ada hal yang tidak kalah penting, yakni membagi majalah ke tangan pembaca. Bagaimana, mudah bukan membuat majalah sekolah? Selamat mencoba! (32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—Hery Nugroho, guru SMP Negeri 7 Semarang, juara III Sayembara Penulisan Buku Pengayaan Tingkat Nasional Tahun 2008 yang diselenggarakan Pusat Perbukuan Depdiknas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6956038590997371782-4450523523569191548?l=jurnalis-group.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/feeds/4450523523569191548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/02/ekstrakulikuler-jurnalistik-sangat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/4450523523569191548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6956038590997371782/posts/default/4450523523569191548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalis-group.blogspot.com/2009/02/ekstrakulikuler-jurnalistik-sangat.html' title='Ekstrakulikuler Jurnalistik Berguna'/><author><name>Team Kita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-ZXNR8Yy9Aks/TzIETtpQRwI/AAAAAAAAAQc/vLYjCSWB2eg/s220/Sunset.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
